Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di China terus menunjukkan momentum yang sangat agresif pada September 2026. Setidaknya ada lima kabar besar yang mencerminkan arah strategi AI Negeri Tirai Bambu saat ini.

1. DeepSeek Bangun Data Center Raksasa dengan 160.000 Chip Huawei

DeepSeek, startup AI yang sempat mengguncang Silicon Valley dengan model V4-nya, dilaporkan berencana memesan setidaknya 160.000 chip Ascend 950DT dari Huawei untuk membangun data center baru di Inner Mongolia, China.

Menurut laporan Bloomberg, data center ini akan beroperasi pada skala gigawatt — cukup untuk menyalakan sekitar 750.000 rumah. Yang menarik, chip Huawei ini akan digunakan khusus untuk inferensi (menjalankan model AI untuk pengguna), bukan untuk melatih model baru yang masih mengandalkan chip Nvidia.

Langkah ini merupakan taruhan terbesar yang diketahui publik pada chip buatan China sebagai pengganti Nvidia. Jika berhasil, ini membuktikan bahwa Huawei mampu memasok chip AI dalam skala besar untuk kebutuhan produksi.

2. Biren Technology Kembali Cari Dana USD 1 Miliar

Shanghai Biren Technology, salah satu dari “empat naga kecil” pembuat GPU China yang menjadi alternatif Nvidia, dilaporkan sedang mempertimbangkan penjualan saham senilai sekitar USD 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun).

Ini akan menjadi penggalangan dana ketiga sejak IPO di Hong Kong pada Januari 2026. Saham Biren sudah melonjak lebih dari 150% sejak debutnya. Pada putaran sebelumnya di Juli 2026, Biren berhasil mengumpulkan sekitar USD 892,5 juta.

Perlu dicatat bahwa Biren sudah berada di Entity List AS sejak Oktober 2023, yang membatasi aksesnya terhadap teknologi chip Amerika. Namun hal ini justru mempercepat upaya pengembangan chip mandiri dan menarik minat investor domestik.

3. Anthropic Ungkap Kampanye Distilasi Skala Industri dari 7 Lab AI China

Anthropic merilis laporan ancaman pada 10 September 2026 yang mengungkap bahwa tujuh lab AI berbasis di China melakukan kampanye distilasi ilegal skala industri terhadap model Claude.

Lab-lab yang disebutkan meliputi:

  • Alibaba — menjalankan kampanye terbesar dengan lebih dari 151 juta pertukaran dengan Claude antara Mei dan Juli 2026
  • Moonshot AI (pembuat Kimi) — dilaporkan mengarahkan permintaan pengguna ke Claude dan menyajikan responsnya sebagai model sendiri
  • DeepSeek — diduga melakukan praktik serupa
  • Z.ai (Zhipu), MiniMax, dan dua lab lainnya

CISA (Badan Keamanan Siber AS) juga merilis advisory pada 8 September yang menyebut bahwa perusahaan AI China secara sistematis mengekstrak kemampuan model AS melalui kampanye distilasi yang menjadi inti strategi pengembangan AI mereka, bukan sekadar pelengkap.

4. Kepala Intelijen China Peringatkan AI Ancam Stabilitas Politik

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di majalah resmi China Cyberspace, kepala keamanan negara China Chen Yixin menyampaikan peringatan paling rinci dari Beijing sejauh ini tentang risiko AI.

Chen menyatakan bahwa:

  • Kemajuan AI yang cepat dapat mengancam stabilitas politik dan infrastruktur kritis
  • Teknologi AI asing, khususnya model dari perusahaan AS seperti Claude dan GPT, merupakan ancaman baru terhadap keamanan siber
  • Agensi intelijen asing berpotensi menggunakan AI untuk spionase skala besar dan serangan terhadap infrastruktur kritis China
  • Diperlukan undang-undang khusus yang menargetkan riset, pengembangan, aplikasi, dan pengawasan teknologi AI

Ini menunjukkan paradoks menarik: China di satu sisi sangat agresif mengejar kemajuan AI, namun di sisi lain sangat khawatir tentang dampak teknologi yang sama terhadap sistem politiknya.

5. Beijing Tolak Seruan Perlambatan AI dari Bos Anthropic

Kementerian Luar Negeri China secara resmi menolak seruan dari CEO Anthropic Dario Amodei yang meminta AS untuk membatasi kemampuan AI China. Dalam esai yang diterbitkan 14 September, Amodei memperingatkan bahwa “keunggulan China dalam AI akan menimbulkan bahaya serius bagi AS dan dunia.”

Beijing membalas dengan menyebut seruan perlambatan AI sebagai “fearmongering” (provokasi ketakutan) dan upaya untuk menghambat kemajuan China, bukan untuk melindungi kemanusiaan. China menegaskan bahwa mereka tidak akan memperlambat pengembangan AI.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan AI China dilaporkan tetap low-profile dan fokus pada monetisasi daripada beradu benchmark. Menurut CNBC, perusahaan China lebih menekankan kemampuan AI untuk menghasilkan pendapatan, bukan sekadar naik peringkat intelligence.

6. AI Ubah Wajah Industri Microdrama China

Sebagai pelengkap, industri microdrama (drama pendek) China telah menjadi aplikasi komersial pertama di dunia untuk video yang dihasilkan AI secara massal. Pada kuartal pertama 2026, sekitar 128.000 microdrama dirilis di China, dan lebih dari 95% di antaranya dihasilkan oleh AI.

ByteDance (pemilik Douyin/TikTok), Alibaba, dan MiniMax semuanya merilis teknologi generasi video AI untuk mendukung industri yang diproyeksikan bernilai USD 16,5 miliar (sekitar Rp 265 triliun) pada 2026 ini.

Dampak bagi Indonesia

Perkembangan AI China memiliki beberapa implikasi bagi Indonesia:

  • Persaingan chip AI antara Huawei dan Nvidia bisa menurunkan harga infrastruktur AI secara global
  • Model AI open-source dari DeepSeek dan Alibaba Qwen bisa dimanfaatkan oleh pelaku tech Indonesia tanpa biaya lisensi mahal
  • Teknologi microdrama AI berpotensi diadopsi oleh kreator konten Indonesia untuk produksi konten yang lebih efisien
  • Penting untuk tetap mengikuti perkembangan ini karena AI China semakin kompetitif di level global