INDUSTRY.co.id - Jakarta-PEFINDO mengabarkan para korporasi penerbit obligasi atau surat utang hingga semester I tahun ini.

Pefindo mencatat bahwa aktivitas penerbitan surat utang korporasi pada semester pertama tahun 2026 masih tergolong kuat. Nilai penerbitan selama enam bulan pertama mencapai Rp87,35 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp90,90 triliun, atau mengalami penurunan sekitar 3,91 persen secara tahunan.

 

Suhindarto, Analis Pefindo menyebutkan Meskipun demikian, rasio antara nilai penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo justru meningkat menjadi 158,2 persen, lebih tinggi dibandingkan 140,3 persen pada semester pertama 2025.

 

"Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu memperoleh pendanaan baru dengan nilai yang melebihi kewajiban yang jatuh tempo," kata dia di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

 

 

PEFINDO menjelaskan bahwa tingginya aktivitas penerbitan pada awal tahun didorong oleh kondisi yield obligasi yang masih relatif rendah selama Januari–Februari 2026. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memperoleh pendanaan dengan biaya yang lebih murah dibandingkan pembiayaan melalui perbankan.

 

Namun demikian, kenaikan yield yang mulai terjadi dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan biaya pendanaan pada semester berikutnya.

 

Selama semester pertama 2026, total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp87,3 triliun, turun 3,91 persen dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya.

 

Penerbitan obligasi korporasi dan sukuk mencapai Rp80,3 triliun, mengalami penurunan sekitar 11,10 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

 

Di sisi lain, penerbitan Medium Term Notes (MTN) justru meningkat tajam menjadi Rp7,1 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp0,4 triliun pada semester pertama 2025.

Sementara itu, hingga akhir Juni 2026 belum terdapat penerbitan instrumen surat utang lainnya, seperti sekuritisasi maupun Surat Berharga Komersial (SBK)