INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan atau year on year.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,88 persen, namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Hal ini disampaikan dalam Laporan Inflasi Bulan September 2026 yang dirilis oleh DEN di laman resminya.

“Naiknya inflasi pada Agustus didorong oleh meningkatnya harga beberapa komoditas pangan akibat kenaikan permintaan dan kendala produksi hortikultura. Selain itu, kenaikan harga komoditas global juga turut memberi tekanan,” demikian disampaikan dalam laporan tersebut dikutip redaksi Senin (7/9/2026).

Dalam laporan tersebut, terdapat tiga komponen utama pendorong inflasi.

Pertama, inflasi kelompok Volatile Food meningkat signifikan menjadi 4,06 persen YoY dari 2,52 persen YoY. Kenaikan ini dipengaruhi oleh dampak El Nino dan naiknya permintaan. Harga daging ayam ras tercatat naik 12,2 persen YoY seiring masuknya periode sekolah dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

Kedua, inflasi inti atau Core Inflation naik menjadi 2,92 persen YoY dari 2,76 persen YoY. Pendorong utamanya adalah harga emas perhiasan yang naik 38,9 persen YoY sejalan dengan harga emas Antam, serta harga minyak goreng yang naik 7,6 persen YoY.

Ketiga, inflasi kelompok Administered Price justru mengalami penurunan menjadi 3,32 persen YoY dari 3,58 persen YoY. Penurunan ini didorong oleh turunnya harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, serta penurunan biaya tambahan atau fuel surcharge tiket pesawat domestik.

Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Maluku Utara sebesar 5,28 persen YoY, didorong oleh sektor transportasi dan makanan, minuman, dan tembakau. Daerah yang terdampak kebakaran hutan seperti Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat juga mengalami inflasi cukup tinggi masing-masing 4,96 persen YoY dan 4,03 persen YoY.

Di sisi lain, tekanan harga juga terlihat di level pedagang besar. Inflasi Indeks Harga Impor pada Triwulan II 2026 tercatat 25,45 persen YoY, naik tajam dari 9,97 persen YoY pada Triwulan I 2026. Sementara itu, Inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar naik menjadi 6,18 persen YoY, dengan kelompok Bangunan dan Konstruksi mencapai 9,52 persen YoY.

“Kenaikan harga di level pedagang besar berpotensi mendorong kenaikan harga konsumen dan menekan marjin keuntungan pedagang,” jelas laporan DEN.

Antisipasi Dampak El Nino 

Ke depan, DEN mengingatkan perlunya mewaspadai potensi dampak El Nino terhadap inflasi. BMKG memprakirakan 75,1 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah pada September 2026. BPS juga memprakirakan produksi beras periode Agustus-Oktober 2026 turun 0,9 persen YoY.

El Nino diperkirakan berlangsung hingga awal 2027 dan bertepatan dengan periode Ramadan dan Idulfitri. Untuk mengantisipasi, Badan Pangan Nasional telah menyiapkan Cadangan Beras Pemerintah sebesar 5,1 juta ton per 25 Agustus 2026.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga inflasi tetap pada sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga 2027.