RR: Bila Tak Ubah Cara, Ekonomi Indonesia Tahun Depan Hanya Empat Persen

Oleh : Herry Barus | Jumat, 08 November 2019 - 17:38 WIB

Rizal Ramli (dok RMOL)
Rizal Ramli (dok RMOL)

INDUSTRY.co.id - Jakarta-  Pakar ekonomi, Rizal Ramli, (RR) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya 4 persen. Hal ini terjadi apabila tim ekonomi pemerintah tidak mengubah langkah ekonomi secara signifikan.

"Jika tidak ada perubahan ekonomi makro hingga Desember 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan anjlok ke 4 persen, yang akan semakin menurunkan daya beli dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengalami gagal minus bayar (default). Tidak ada juga tanda-tanda indikator ekonomi makro seperti defisit perdagangan, defisit curent account akan membaik 2020,” kata mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu, Jumat (8/11/2019)

Angka yang diprediksi Rizal Ramli itu lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,05 persen. Padahal, pada 2019, target pertumbuhan ekonomi dipatok di angka 5,1 persen.

Terlebih lagi, sambung Rizal, peningkatan kegiatan ekonomi dan korporasi Tiongkok di Indonesia yang semakin masif juga menjadi dampak perekonomian di Tanah Air semakin memburuk.

"Nilai tambah mereka (Tiongkok) terhadap ekonomi rakyat Indonesia sangat minimum, karena model bisnisnya menyedot nilai tambah dari hulu ke hilir, sangat berbeda dengan investasi asing lainnya di massa lalu, yang biasanya hanya membawa 10 tenaga kerjanya," tukas Rizal Ramli.

 

Belum lagi, imbuh Rizal Ramli, pemerintah masih menggunakan strategi berutang untuk mengatasi persoalan ekonomi. Ironisya, bunga utang-nya pun sangat besar bila dibanding negara yang ratingnya rendah dari Indonesia.

"Bunga utang luar negeri lebih tinggi dibanding negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia. Bunga utang Indonesia sampai 8,3 persen, sementara negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina bunganya 4 sampai 5 persen. Itu kenapa subsidi energi dan sosial dipangkas untuk bayar utang. Dampaknya daya beli rakyat lemah, karena harga TDL naik, BBM naik, dan akan menyusul iuran BPJS Kesehatan naik 100 persen," ungkap mantan Tim Panel Bidang Ekonomi PBB itu.   

Meski demikian, Rizal Ramli masih optimis dengan kinerja beberapa menteri kabinet yang bisa menyelamatkan masa depan Indonesia.

"Ada beberapa sektor yang akan melakukan perubahan positif, terutama Mendikbud, Nadiem Makarim dan Menteri BUMN Erick Thohir yang didampingi 2 mantan CEO Bank Mandiri," pungkas Rizal Ramli.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Warga Iran antisipasi penyebaran virus corona (foto Aljazeerah)

Jumat, 28 Februari 2020 - 10:08 WIB

Setelah Wamen Kesehatan, Kini Wakil Presiden Iran Positif Terinfeksi Virus Corona

Teheran, Wakil Presiden Iran untuk Urusan Wanita dan Keluarga, Masoumeh Ebtekar, dikabarkan terinfeksi virus corona(COVID-19). Masoumeh jadi pejabat tinggi kedua terinfeksi virus corona setelah…

Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih bersama Ketua Umum Dekranas, Wury Maruf Amin saat pergelaran program e-Smart IKM

Jumat, 28 Februari 2020 - 10:01 WIB

Lewat e-Smart IKM, Kemenperin Pacu Daya Saing Industri Kerajinan

Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri kerajinan di dalam negeri melalui berbagai program dan kegiatan strategis.

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Jumat, 28 Februari 2020 - 09:51 WIB

IHSG Rontok di Atas 2 Persen, Di mana BEI?

BEI memiliki protokol krisis yang akan digunakan apabila penurunan IHSG semakin berat. IHSG terkoreksi hingga 2,63% ke level 5.539,38, pada perdagangan sesi I, Kamis (27/2/2020).

IHSG

Jumat, 28 Februari 2020 - 09:43 WIB

Gawat, Baru Buka IHSG Anjlok 3,2% ke Level 5.357

Pada pembukaan perdagangan, Jumat (28/2), IHSG anjlok hingga 177 poin (3,2%) ke level 5.357. indeks LQ45 juga tercatat melemah 39 poin (4,4%) ke 852. Pada pra perdagangan, IHSG turun 99 poin…

Industri Pupuk Bergerak Seiring Beroperasinya Pabrik NPK Fusion II

Jumat, 28 Februari 2020 - 09:00 WIB

Industri Pupuk Bergerak Seiring Beroperasinya Pabrik NPK Fusion II

PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) Palembang yang merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani Plant Acceptance Pabrik NPK Fusion II dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (27/2).…