Industri Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan Nasional Tambah Kapasitas Produksi

Oleh : Ridwan | Rabu, 24 April 2019 - 20:45 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meninjau pabrik Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan PT Schott Igar Glass
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meninjau pabrik Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan PT Schott Igar Glass

INDUSTRY.co.id - Cikarang - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri kaca untuk alat-alat farmasi dan kesehatan. 

Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035, industri tersebut menjadi sektor prioritas karena guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, menjadi substitusi impor, dan mampu berdaya saing di kancah internasional.

"Di samping itu, Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan mengamanatkan bahwa untuk mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, antara lain dengan meningkatkan daya saing industri di dalam negeri dan ekspor," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pengoperasian Mesin AK 2000 (Top Line Production) PT Schott Igar Glass di Cikarang, Rabu (24/4).

Menperin mengemukakan, peluang pengembangan industri kaca alat-alat farmasi dan kesehatan masih sangat terbuka, termasuk untuk memperbesar pasar dalam negeri. Hal ini ditopang dengan tumbuhnya industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional sebesar 4,46% pada tahun 2018.

Bahkan, jumlah penduduk Indonesia mencapai 260 juta jiwa yang membutuhkan produk farmasi berupa vaksin, obat dan lainnya, mendorong pula kebutuhan pasar domestik, ungkapnya. Konsumsi produk ampul di dalam negeri sebesar 700 juta pcs per tahun dan produk vial sebesar 500 juta pcs per tahun dengan pertumbuhan kebutuhan per tahun sebesar 3%.

Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Schott Igar Glass atas upaya penambahan top line production sebanyak dua mesin AK 2000. Mesin yang mengadopsi teknologi industri 4,0 ini untuk meningkatkan kapasitas terpasang produk vial dari 540 juta pcs per tahun menjadi 576 juta pcs per tahun atau tambah sebesar 36 juta pcs per tahun. Sedangkan, kapasitas produksi terpasang untuk ampul sebesar 775 juta pcs per tahun.

"Capaian tersebut, menjadikan PT Schott Igar Glass sebagai produsen utama dari produk vial dan ampul untuk kebutuhan domestik dengan pangsa pasar mencapai 70%. Selain itu, PT Schott Igar Glass telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 20 negara di Asia dan Eropa," papar Airlangga. 

Pada 2018, ekspor produk ampul dan vial secara nasional sebesar 2.500 ton atau senilai USD17 juta.

Menperin menyampaikan, industri kaca merupakan sektor padat modal yang membutuhkan biaya investasi besar. Untuk itu, dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan, difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku serta energi yang berkesinambungan dan terjangkau. 

Hal ini sesuai amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

"Pada kesempatan ini, kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada PT Schott Igar Glass yang selama lebih dari 15 tahun ini telah percaya terhadap iklim investasi di Indonesia yang kondusif, sehingga terus berkomitmen dan berkontribusi dalam membangun industri kaca nasional. Pabrik di Cikarang ini terbesar ketiga di dunia," ujarnya. 

Lebih lanjut, guna melindungi industri kaca farmasi di dalam negeri, Kemenperin berinisiasi untuk melakukan penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk ampul dan merevisi SNI produk vial, yang selanjutnya akan diwajibkan.

"Dengan diproduksinya ampul dan vial di dalam negeri, kita harapkan pula dapat mengoptimalkan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk farmasi melalui komponen kemasan dalam proyek pengadaan jaminan kesehatan pemerintah," tuturnya.  

Presiden Direktur PT Schott Igar Glass Abelardo Riveron berharap penerapan SNI wajib bagi produk ampul dan vial dapat segera terealisasi. 

"Tujuannya untuk melindungi produsen dan konsumen dalam negeri. SNI wajib menjadi penting karena untuk prioritas tehadap keamanan pengguna," tegasnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Penyerahan Bantuan Alat Kesehatan dan Dukungan Personel Tenaga Medis dari Pangkogabwilhan II Kepada Pangdam V/Brawijaya

Minggu, 07 Juni 2020 - 11:30 WIB

Pangkogabwilhan II Serahkan Bantuan Alkes dan Tenaga Medis di Jatim

Pangkogabwilhan II) Marsda TNI Imran Baidirus, S.E. menyerahkan bantuan Alat Kesehatan (Alkes) dan personel tenaga medis untuk percepatan penanganan Covid-19, kepada Pangdam V/Brawijaya Mayjen…

Rupiah (Foto/Rizki Meirino)

Minggu, 07 Juni 2020 - 11:15 WIB

Apa Sih Maksud Konsep PEN 'Sharing The Pain, Sharing The Burden'? Ini Penjelasan Anak Buah Menkeu

Konsep sharing the pain, sharing the burden atau pembagian beban dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN) dijelaskan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (Kepala BKF) Febrio Kacaribu dalam acara…

Penanganan lumpur lapindo

Minggu, 07 Juni 2020 - 10:47 WIB

Lanjutkan Program Pengendalian Lumpur Sidoarjo, Kementerian PUPR Alokasikan Anggaran Rp 239,7 Miliar

Pada Tahun Anggaran 2020, Kementerian PUPR mengalokasikan Rp 239,7 miliar untuk penanganan lumpur Sidoarjo dalam rangka meningkatkan pengaliran lumpur ke Kali Porong dan menjaga keandalan tanggul…

Satgas Pamtas RI-PNG Yonif MR 411/Pdw Kostrad Melaksanakan Kegiatan Bertema Jumat Berkah

Minggu, 07 Juni 2020 - 10:30 WIB

Satgas 411 Kostrad Berbagi Kebahagiaan dengan Warga Bupul

Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Yonif MR 411/Pdw Kostrad melaksanakan kegiatan bertema “Jumat Berkah” dengan membagikan sembako untuk warga kurang mampu di Kampung…

Ilustrasi Walikota Surabaya Risma dan Gubernur Jatim Khofifah (ist)

Minggu, 07 Juni 2020 - 10:15 WIB

Halo Bu Khofifah Bu Risma, Jawa Timur Cetak Penambahan Tertinggi Kasus Positif Covid-19 Loh!

Menurut data yang dihimpun oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan penambahan kasus tertinggi, meski jumlah pasien sembuh juga dilaporkan…