INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Tingkat kapitalisasi atau cap rate properti di kawasan Asia Pasifik relatif stabil pada kuartal II 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor justru semakin selektif dalam mengalokasikan modal dan memburu aset berkualitas dengan fundamental pendapatan yang kuat.

Temuan tersebut tertuang dalam Colliers Cap Rates Report Q2 2026. Laporan ini menunjukkan permintaan dari penyewa yang tetap tangguh serta minat investor terhadap aset berkualitas tinggi menjadi penopang kinerja cap rate di kawasan tersebut. Kondisi itu berlangsung ketika inflasi, biaya pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi bergerak berbeda di masing-masing negara.

Seoul menjadi pasar dengan perubahan cap rate paling signifikan sepanjang kuartal II 2026. Sementara itu, sektor perkantoran tercatat sebagai sektor yang mengalami perubahan paling besar di kawasan Asia Pasifik.

Australia, Singapura, India dan Tokyo masih menikmati fundamental permintaan dari penyewa yang relatif kuat serta minat investor yang solid. Namun, tekanan repricing atau penyesuaian harga aset masih terlihat di sejumlah pasar seperti China, Hong Kong, Korea dan Filipina.

“Investor menjadi semakin selektif dalam menempatkan modal di Asia Pasifik. Meskipun ketidakpastian global terus memengaruhi sentimen, fundamental dari sisi penyewa tetap mendukung di banyak pasar,” kata CK Lau, Managing Director | Valuation & Advisory Services, Asia, Colliers.

Menurut dia, permintaan yang berkelanjutan terhadap aset berkualitas dengan karakteristik pendapatan yang kuat masih terlihat, terutama pada sektor dan lokasi dengan pasokan yang terbatas.

“Ketika kondisi ekonomi berbeda-beda di seluruh kawasan, fundamental pasar lokal dan kualitas aset akan memainkan peran yang semakin besar dalam membentuk keputusan investasi,” ujar Lau.

Di sektor perkantoran, kondisi pasar Asia Pasifik masih beragam. Namun, permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung premium yang berada di lokasi strategis.

Pasar perkantoran Australia menjadi salah satu yang mendapat dukungan dari aktivitas leasing yang berkelanjutan, terbatasnya pasokan baru serta pertumbuhan sewa pada gedung kelas premium. Permintaan dari penyewa berskala lebih kecil juga membantu menurunkan tingkat kekosongan dan memperkuat fundamental investasi.

Kondisi serupa terlihat di Tokyo, Bengaluru dan Singapura yang masih ditopang permintaan penyewa yang kuat. Sementara di Hong Kong, kondisi leasing yang mulai stabil membantu meredam kenaikan yield lebih lanjut.

Berbeda dengan itu, pasar China masih menghadapi tekanan dari pasokan baru dan tingkat kekosongan yang tinggi. Investor pun lebih berfokus pada aset-aset utama atau prime assets yang dinilai memiliki fundamental lebih kuat.

Sementara itu, kinerja sektor ritel di Asia Pasifik cenderung berbeda antar pasar. Perbedaan daya beli konsumen, aktivitas pariwisata dan kondisi pembiayaan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.

Tokyo masih menikmati dukungan dari lonjakan wisatawan asing, konsumsi domestik yang sehat serta tingkat kekosongan yang rendah. Kondisi tersebut menopang kinerja kawasan ritel premium.

Pasar ritel Hong Kong mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Perbaikan secara moderat membuat laju kenaikan cap rate di pasar tersebut mulai melandai.

Singapura juga menjadi salah satu pasar ritel terkuat di kawasan Asia Pasifik. Ketahanan belanja barang mewah, keterbatasan pasokan serta fundamental penyewa yang kuat menjadi penopang pasar.

Di Australia, momentum investasi ritel mulai membaik. Pusat perbelanjaan lingkungan dan regional mulai menarik kembali modal investor seiring belanja konsumen untuk kebutuhan non-diskresioner yang relatif tangguh.

Adapun sektor industri menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Pasar industri Asia Pasifik secara umum relatif stabil karena didukung permintaan penyewa yang sehat dan minat investor terhadap aset logistik.

Australia mencatat transaksi sektor industri senilai US$2,27 miliar secara year to date. Sydney dan Melbourne menjadi dua pasar yang tetap menarik bagi investor pemilik-pengguna maupun modal swasta domestik.

Aktivitas leasing di Australia juga membaik seiring meningkatnya keyakinan terhadap stabilitas suku bunga. Kondisi ini memberikan ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur pada aset industri dan logistik.

Permintaan juga tetap tangguh di sejumlah pasar seperti India, Singapura dan Selandia Baru. Di Tokyo, pasokan logistik baru mulai terserap dengan baik, terutama berkat permintaan dari perusahaan e-commerce dan penyedia jasa logistik pihak ketiga.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa investor properti Asia Pasifik memasuki paruh kedua 2026 dengan strategi yang lebih berhati-hati. Stabilnya cap rate tidak serta-merta mencerminkan pasar yang kembali bergairah, tetapi menunjukkan bahwa investor semakin menempatkan kualitas aset, kekuatan permintaan penyewa dan keterbatasan pasokan sebagai penentu utama keputusan investasi.