INDUSTRY.co.idJakarta - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membukukan laba bersih sebesar Rp891 miliar pada triwulan kedua 2026, atau turun 13% dibandingkan pada triwulan pertama 2026 sebesar Rp1,028 triliun. Dengan demikian, total laba bersih KLBF pada paruh pertama 2026 tercatat sebesar Rp1,9 triliun atau lebih rendah 3% dibandingkan pada periode yang sama pada 2025.

 

Itu artinya, laba bersih KLBF pada semester pertama 2026 ini baru mencapai 53% dari proyeksi laba bersih yang ditetapkan sebelumnya. Padahal selama tiga tahun terakhir ini, laba bersih Perseroan pada triwulan pertama setiap tahunnya tercatat sebesar 55%. Penurunan laba bersih KLBF pada paruh pertama 2026 ini disebabkan oleh penurunan marjin. Selain itu, hal tersebut juga mendilusi kinerja Perseroan sepanjang enam bulan pertama 2026.

 

Pendapatan KLBF pada paruh pertama 2026 naik 14%. Kenaikan itu melampaui perkiraan yang sebelumnya ditetapkan manajemen, yaitu antara 8-10%. Manajemen mengamati bahwa pertumbuhan pendapatan pada paruh pertama 2026 ini hampir seluruhnya berasal dari peningkatan volume penjualan.

 

Kenaikan harga produk yang dijual KLBF terlihat lebih fleksibel di segmen consumer health. Itu juga terbatas pada segmen prescription pharmaceutical (obat-obatan resep dokter). Sedangkan pertumbuhan pendapatan pada semester pertama 2026 didukung oleh segmen distribution & logistics yang menunjukkan pertumbuhan 27% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh kedatangan prinsipal baru Bayer yang bergabung ke Kalbe Farma.

 

Marjin laba kotor KLBF juga turun menjadi 36,8% pada triwulan kedua 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 40,8%. Menurut manajemen KLBF, penurunan marjin secara kumulatif pada enam bulan pertama 2026 tercatat sebesar 220 bps.

 

Sekitar 100 bps dari total penurunan marjin tersebut berasal dari kenaikan harga bahan baku farmasi yang sering digunakan untuk memproduksi berbagai macam obat serta depresiasi rupiah. Sisanya, berasal dari segmen campuran dimana kontribusi distribution & logistics yang bermarjin paling rendah ternyata mencapai 38% dari total pendapatan KLBF pada triwulan kedua 2026. Itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan pada kuartal kedua 2025 sebesar 34%.

 

Manajemen memperkirakan tekanan marjin Perseroan berpotensi akan terus berlanjut di paruh kedua 2026. Itu karena depresiasi rupiah baru akan terlihat setelah persediaan bahan baku obat-obatan saat ini habis, meski hal itu tidak memberikan indikasi tekanan lanjutan pada margin.

 

Selain itu, penurunan laba bersih KLBF juga disebabkan oleh pos lain-lain yang mencatat transaksi sebesar negatif Rp47 miliar pada paruh pertama 2026 dibandingkan pada semester pertama 2025 ketika membukukan transaksi positif Rp61 miliar. Di samping itu, penurunan laba bersih tersebut juga disebabkan oleh kerugian selisih kurs sebesar Rp55 miliar. Kerugian ini diperkirakan bakalan terus berlanjut jika kurs rupiah masih terus terdepresiasi.

 

Menurut analis Stockbit, penurunan marjin yang terus berlanjut pada paruh kedua 2026 ini berpotensi membuat kinerja KLBF akan terus melemah dibandingkan semester kedua pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi itu dapat mengimplikasikan risiko pemangkasan laba bersih 2026 KLBF yang diperkirakan mencapai Rp3,6 triliun. Karena itu, analis itu memperkirakan laba bersih KLBF pada 2026 tercatat hanya mencapai Rp3,45 triliun.

 

Tetapi jika nilai tukar rupiah menguat dan harga minyak mengalami penurunan, marjin KLBF diperkirakan akan mencapai level terendah pada paruh kedua 2026, sehingga harga saham KLBF akan mengalami pemulihan di tengah prospek yang menantang pada paruh kedua 2026. Karena itu, demikian analis Stockbit, saham KLBF itu sudah oversold dan diharapkan dapat memberikan risk-reward yang membaik.***