INDUSTRY.co.id - BOGOR, Turnamen Indonesian Pro-Am kembali digelar dengan mempertemukan pegolf profesional dan amatir dalam satu panggung kompetisi. Memasuki penyelenggaraan keempat, ajang tersebut melibatkan total 200 peserta yang terdiri atas 100 pegolf profesional dan 100 pegolf amatir.
Format tersebut menjadi salah satu daya tarik Indonesian Pro-Am. Pegolf amatir tidak hanya berkesempatan bermain dalam satu turnamen bersama pemain profesional, tetapi juga dapat merasakan langsung atmosfer kompetisi sekaligus belajar dari pengalaman para pegolf yang telah lebih dahulu berkiprah di level profesional.
President Director Combiphar, Michael Wanandi, mengatakan Indonesian Pro-Am memiliki format yang cukup unik dibandingkan ajang Pro-Am pada umumnya.
“Ini merupakan event yang keempat di Indonesian Pro-Am. Ini suatu format Indonesian Pro-Am yang pemain Pro-Am terbesar di Indonesia karena melibatkan 100 pemain profesional dan 100 pemain amatir," ujarnya.
Menurut Michael, tingginya minat pegolf Indonesia menjadi salah satu indikator bahwa format kompetisi tersebut mendapat respons positif. Kuota peserta disebut relatif cepat terpenuhi setiap kali pendaftaran dibuka.
Ia berharap Indonesian Pro-Am dapat terus berkembang dan menghadirkan kompetisi yang semakin menarik pada penyelenggaraan berikutnya.
Dukungan terhadap perkembangan golf juga telah diberikan Combiphar selama sekitar satu dekade melalui Asian Development Tour.
Dalam empat tahun terakhir, Combiphar berkolaborasi dengan Nomura untuk mendukung penyelenggaraan Indonesian Pro-Am sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem olahraga golf di Indonesia.
Golf Jadi Olahraga Lintas Generasi
Michael menilai golf memiliki karakter yang membuat olahraga tersebut dapat dimainkan oleh berbagai kelompok usia. Golf tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi antara anggota keluarga dari generasi yang berbeda.
Menurutnya, karakter tersebut sejalan dengan komitmen untuk mendorong masyarakat Indonesia menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan aktif.
“Misi kita adalah bagaimana membangun generasi Indonesia yang lebih sehat. Saya rasa olahraga yang bisa dimainkan tiga generasi, antara orang tua, saya dan anak saya, bisa dimainkan dalam satu kesempatan bersama," imbuhnya.
Konsep lintas generasi itu juga terlihat dalam Indonesian Pro-Am. Turnamen tidak sekadar mengejar persaingan skor, tetapi memberikan pengalaman kepada pegolf amatir untuk berada dalam lingkungan kompetisi yang sama dengan para profesional.
Format Indonesian Pro-Am pun berbeda dari sistem Pro-Am yang lazim digunakan. Dalam format Pro-Am pada umumnya, pegolf profesional dan amatir dapat bermain menggunakan sistem best ball, dengan hasil terbaik dari tim menjadi dasar perhitungan.
Indonesian Pro-Am menerapkan mekanisme berbeda. Setiap pemain tetap memainkan bolanya masing-masing, sementara pegolf amatir mendapatkan keuntungan melalui sistem handicap. Hasil permainan kemudian dibandingkan dengan capaian pegolf profesional di setiap hole untuk menentukan hasil terbaik.
Format tersebut mengadopsi konsep Pro-Am yang telah berkembang di sejumlah negara, termasuk Selandia Baru dan Amerika Serikat. Model serupa antara lain dapat ditemukan dalam turnamen seperti New Zealand Open dan AT&T Pro-Am.
Anak Ikut Bertanding hingga Hari Terakhir
Indonesian Pro-Am juga memberikan pengalaman personal bagi Michael Wanandi. Ia mengikuti turnamen tersebut bersama sang anak.
Michael mengakui kondisi fisiknya membuat dirinya tidak mampu bertahan hingga akhir kompetisi. Sebaliknya, sang anak justru mampu mengikuti pertandingan sampai hari terakhir.
“Saya sudah terlalu tua untuk bisa ikut sampai dekat, sudah kecapekan dari hari kedua. Tapi anak saya berhasil untuk pertama kalinya mengikuti acara Pro-Am ini," ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi semakin berkesan karena sang anak mendapat kesempatan bermain bersama Jazz dari Thailand, pegolf yang pernah menjuarai Indonesian Masters.
Bagi Michael, kesempatan tersebut dapat menjadi pengalaman sekaligus inspirasi bagi sang anak untuk terus mengembangkan kemampuan bermain golf.
“Ini merupakan salah satu inspirasi saya bagaimana anak saya juga bisa meneruskan apa yang sudah kita bangun. Mudah-mudahan dia bisa belajar banyak dari format ini dan menjadi pemain yang lebih baik," sambungnya.
Indonesian Pro-Am diharapkan tidak hanya menjadi kompetisi bagi pegolf profesional dan amatir, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran. Pegolf amatir dapat memperoleh pengalaman bertanding, memahami atmosfer kompetisi, serta belajar secara langsung dari para pemain profesional.
Konsistensi dukungan Combiphar sebagai presenting sponsor sejak 2016, bersama sponsor pendukung seperti Nomura, turut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung perkembangan golf dan gaya hidup aktif di Indonesia.
Melalui program “Championing a Healthy Tomorrow”, dukungan terhadap olahraga tersebut diarahkan untuk mendorong terciptanya generasi Indonesia yang lebih sehat sekaligus memperluas kesempatan masyarakat menikmati olahraga lintas generasi.
Sejumlah penyelenggaraan Indonesian Pro-Am sebelumnya juga menjadikan Gunung Geulis Country Club, Bogor, sebagai salah satu lokasi utama. Dengan format yang mempertemukan pemain profesional dan amatir, turnamen ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi salah satu agenda penting dalam kalender golf Indonesia.