Manisnya Impor Gula Justru Jadi Pil Pahit Buat Ekonomi Indonesia

Oleh : Ridwan | Senin, 14 Januari 2019 - 17:20 WIB

Gula Impor Marak di Pasar Tradisional, Petani Merugi
Gula Impor Marak di Pasar Tradisional, Petani Merugi

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai impor gula yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan justru akan membuat "Pahit" perekonomian Indonesia. 

Peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan, keputusan pemerintah untuk mengimpor gula hanya membuang-buang devisa Indonesia. 

"Impor setiap tahun terus meningkat, tapi ekspor tidak kelihatan. Dampaknya defisit perdagangan kita membesar," kata Heri di Jakarta, Senin (14/1/2019).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari - November 2018, impor gula mencapai 4,6 juta ton arau senilai dengan USD 1,66 miliar. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,48 juta ton. 

Lebih mengerikan lagi jika melihat data dari USDA dalam Statista (2018) yang menggambarkan impor gula Indonesia terbesar di dunia mencapai 4,45 juta metrik ton pada 2016/2018.

Ditanbahkan Heri, pada 2018, Kementerian Perindustrian menargetkan kebutuhan industri terhadap gula rafinasi sebesar 2,8 juta ton. Sementara itu, Kementerian Perdagangan memberikan kuota impor sebanyak 3,6 juta ton yang dibagi dalam dua semester masing-masing 1,87 juta ton. 

Namun, lanjutnya, realisasi yang terjadi pada semester I-2018 hanya sebesar 1,56 juta ton. "Ini menggambarkan bahwa industri tidak membutuhkan gula rafinasi sebanyak yang direncanakan di awal tahun. Hak ini mendorong Kemendag merevisi kuota impor dari 3,6 juta tin menjadi 3,15 juta ton," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Hari menjelaskan, pada semester II-2018, kuota impor justru melejit menjadi 3,37 juta ton pada akhir tahun. Meskipun masih memenuhi kuota impor di awal sebesar 3,6 juta ton, akan tetapi meleset dari target kuota impor tengah tahun sebesar 3,15 juta ton. 

Menurut Heri, realisasi impor ini masih di luar impor gula untuk konsumsi sebesar 1,01 juta ton di tahun 2018. "Ini membuktikan bahwa gula yg diimpor tidak hanya untuk kebutuhan industri, namun juga untuk kebutuhan konsumsi," jelas Heri. 

Jika dilihat dari harga, jelas Heri, rata-rata harga gula mentah dunia tahun 2018 sebesar USD 0,28 (Rp4.000) lebih murah jika dibandingkan dengan harga domestik sebesar Rp9.700 (harga HPP September 2018).

"Dengan perbedaan harga gula tinggi, maka upaya stabilisasi harga tentu akan mahal jika menggunakan gula petani. Upaya 'potong kompas' kebijakan stabilisasi ini membuat gula petani susah terserap. Dengan demikian jika masyarakat sebagai konsumen harus membayar lebih mahal, sementara petani gula tidak menikmati 'manisnya' harga, lalu siapa penikmat rente gula ini?," tanya Heri. 

Untuk mengatasi caruk maruknya pergulaan di Indonesia, INDEF meminta pemerintah agar menyusun neraca gula yang akurat untuk memastikan ketersediaan dan kebutuhan yang ada.

"Keberadaan neraca ini diharapkan bisa menjadi instrumen untuk mengelola pasokan dalam rangka meredam gejolak fluktuasi harga gula," imbuh Heri. 

Selain itu, INDEF juga menyarankan pemerintah untuk merenovasi atai efisiensj pabrik gula pemerintah agar produksi gula non rafinasi (gula rakyat) bisa lebih kompetitif dan efisien. 

Penataan pabrik gula milik BUMN juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mengingat dari 45 pabrik gula milik BUMN, hanya 25% yang memiliki kapasitas produksi di atas 4.000 ton per hari. Sementara 78% pabrik gula di Jawa berusia di atas 100 tahun, sehingga sangat tidak kompetitif. 

"Peningkatan luas area perkebunan dan meningkatkan produktivitas udaha tani juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan oleh petani melalui peningkatan rendemen tebu, serta efisiensi ditingkat pabrik pengolahan dengan peningkatan teknologi mesin giling," pungkas Heri. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Gubernur Sumatera Utara, H. Edy Rahmayadi (kemeja putih) didampingi Direktur BTN, Budi Satria (kanan), sedang berbincang-bincang dengan calon konsumen KPR BTN ketika sedang melakukan akad kredit di Medan, Sumatera Utara, Senin (22/04/2019).

Selasa, 23 April 2019 - 01:35 WIB

Bank BTN Gelar Akad Kredit Massal untuk 8.500 Unit Rumah Bernilai Rp1 Triliun

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), atau Bank BTN, menggelar akad massal untuk 8.500 unit rumah yang digelar secara serentak di seluruh kantor cabang perseroan dengan total nilai mencapai lebih…

Prince Hassan Resmikan Klinik Bantuan BAZNAS Untuk Pengungsi Palestina

Senin, 22 April 2019 - 21:01 WIB

Prince Hassan Resmikan Klinik Bantuan BAZNAS Untuk Pengungsi Palestina

Presiden Jordan Medical Aid For Palestinians (MAP), Prince El Hassan Bin Talal, meresmikan klinik bantuan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk pengungsi Palestina di Yordania. “Klinik…

Traveloka Epic Sale 2019

Senin, 22 April 2019 - 20:46 WIB

Mudahkan Pengguna Wujudkan Impian Liburan Hari Raya, Traveloka Hadirkan EPIC Sale 2019

Para pengguna Traveloka sebentar lagi akan dapat menikmati potongan harga terbatas yang luar biasa melalui program khusus Traveloka Epic Sale. Program yang akan berlangsung pada tanggal 24-27…

Capres Prabowo Subianto (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 22 April 2019 - 20:30 WIB

Capres Prabowo Sakit, Tak Bisa Bertemu Utusan Capres Jokowi

Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo menyebutkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto tidak bisa bertemu…

Ilustrasi Industri Manufaktur (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Senin, 22 April 2019 - 20:15 WIB

Kejar Target Pertumbuhan Industri 5,4 Persen, Ini Program Strategis Menperin

Kementerian Perindustrian terus berupaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) kompeten terutama yang siap menghadapi era industri 4.0.