INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) terus memperluas pijakannya di sektor energi bersih dengan mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) untuk berbagai kebutuhan, mulai dari rumah tangga hingga industri.
Teknologi penyimpanan energi tersebut diperkenalkan Dharma Group dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026).
BESS dikembangkan dengan konsep all-in-one yang menggabungkan sejumlah komponen kelistrikan dalam satu sistem sehingga lebih praktis dalam pemasangan dan pengoperasian.
Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, pengembangan BESS merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperluas bisnis di sektor kelistrikan sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Didesain sebagai solusi penyimpanan energi yang dapat diandalkan, efisien dan berkelanjutan, BESS diproduksi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di perumahan, perbelanjaan, maupun industri. Terlebih untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan kendaraan listrik,” kata Irianto.
Untuk segmen residensial, BESS yang dikembangkan Dharma memiliki kapasitas sekitar 5 kWh. Kapasitas tersebut dapat digunakan untuk menopang sejumlah kebutuhan listrik esensial, seperti pendingin ruangan berkapasitas 1/2 PK dan penerangan selama sekitar lima jam, bergantung pada pola penggunaan beban.
BESS tersebut juga dapat dipadukan dengan panel surya. Integrasi ini memungkinkan perangkat tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya cadangan ketika terjadi pemadaman, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pemanfaatan energi terbarukan.
Dharma mengembangkan sistem tersebut secara modular sehingga kapasitasnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Dari skala rumah tangga, teknologi tersebut dapat dikembangkan menjadi sistem penyimpanan energi dengan kapasitas hingga beberapa megawatt-hour.
BOD PT Dharma Controlcable Indonesia Eko Maryanto mengatakan, fleksibilitas kapasitas menjadi salah satu keunggulan BESS yang dikembangkan perseroan.
“Intinya BESS ini bisa dibuat dari mulai kecil, besar, tergantung kebutuhannya. Skalanya juga bisa sampai 5 megawatt-hour,” ujar Eko.
Menurut Eko, keberadaan sistem penyimpanan energi akan semakin penting seiring dengan meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan. BESS memungkinkan energi yang dihasilkan dari sumber terbarukan disimpan terlebih dahulu dan digunakan ketika dibutuhkan.
“Kalau kita pakai ini, artinya kita enggak perlu lagi pakai batu bara, fossil fuel, jadi clean energy,” katanya.
Dari Modul hingga Sel Baterai
Secara teknis, BESS Dharma merupakan sistem penyimpanan energi berbasis baterai yang disusun secara modular. Di dalam perangkat terdapat sejumlah rak yang menampung modul baterai. Sementara itu, setiap modul terdiri atas sejumlah sel baterai sebagai komponen utama penyimpan energi.
“Kalau dibuka, dalamnya itu ada rak-rak seperti ini (display di booth) Satu rak. Nah, di dalam rak itu ada modul. Kalau dibuka modul itu, dalamnya ada apa? Ada baterai,” jelas Eko.
Menurutnya, perkembangan kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan sistem penyimpanan energi akan ikut mendorong peningkatan kebutuhan terhadap teknologi baterai.
BESS juga memiliki peluang untuk diterapkan di berbagai lokasi yang membutuhkan pasokan listrik mandiri. Salah satunya wilayah yang terdampak bencana atau daerah dengan keterbatasan akses terhadap jaringan listrik.
Penggunaan BESS yang dipadukan dengan panel surya juga berpotensi menjadi alternatif terhadap genset konvensional yang bergantung pada pasokan bahan bakar.
Sistem tersebut memungkinkan pasokan listrik diperoleh dan disimpan dengan ketergantungan yang lebih rendah terhadap distribusi bahan bakar fosil.
Masih di Tahap Battery Pack
Dari sisi manufaktur, Dharma saat ini masih berfokus pada perakitan battery pack. Kendati demikian, perseroan telah mengembangkan desain dan spesifikasi sel baterai sesuai kebutuhan internal.
“Kalau kita sekarang masih pack,” kata Eko.
Untuk saat ini, produksi sel baterai dengan spesifikasi yang dirancang Dharma masih dilakukan melalui mitra manufaktur di China. Eko menegaskan, sel tersebut bukan produk generik yang tersedia di pasar, melainkan dibuat berdasarkan spesifikasi yang dikembangkan perusahaan.
“Sebetulnya kalau secara desain baterai sel itu dari kita, cuma prosesnya masih dikerjakan di China. Jadi bukan baterai umum yang dijual, tapi memang sesuai dengan spesifikasi yang kita inginkan, cuma produksinya di China,” jelasnya.
Dharma membuka peluang untuk membawa produksi sel tersebut ke dalam negeri. Namun, langkah tersebut baru akan dilakukan apabila volume permintaan telah mencapai tingkat yang dinilai ekonomis.
“Kalau quantity-nya sudah di atas 250 megawatt-hour, kita akan produksi sendiri,” ujar Eko.
Target tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perseroan meningkatkan kapasitas manufaktur baterai di dalam negeri dan mendorong peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).
Tantangan Rantai Pasok Baterai
Pengembangan industri baterai nasional masih menghadapi tantangan pada sisi hulu, terutama ketersediaan bahan baku dan prekursor.
Untuk material tertentu seperti litium, Indonesia masih membutuhkan pasokan dari luar negeri. Sementara itu, Indonesia dinilai memiliki potensi sumber daya untuk sejumlah material lain yang digunakan dalam teknologi baterai.
Eko mengatakan, tantangan utama saat ini salah satunya adalah belum kuatnya industri prekursor yang menjadi mata rantai penting dalam produksi material baterai.
“Kalau ngomong ferro phosphate, sumbernya di Indonesia banyak. Terus kemudian kalau mau NMC juga sumbernya banyak. Cuma masalahnya di Indonesia sekarang ini problemnya belum ada yang bikin prekursor,” katanya.
Menurut dia, pembangunan industri prekursor akan membantu menciptakan rantai pasok baterai yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Dalam konteks tersebut, rencana pengembangan ekosistem baterai oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) dinilai dapat menjadi salah satu faktor pendukung.
“Kalau seandainya IBC mau bikin, kalau sudah jadi itu akan jauh lebih bagus dan terintegrasi. Karena enggak mungkin kita mendirikan suatu baterai itu dari hulu sampai ke hilir kita bikin semua,” ujarnya.
Perkuat SDM dan Ekosistem EV
Selain mengembangkan BESS, Dharma Group bersama National Battery Research Institute (NBRI) turut menjalankan program pendidikan dan pelatihan mengenai teknologi baterai.
Materi pelatihan mencakup teknologi battery cell, kendaraan listrik, konversi kendaraan, standar baterai hingga praktik pembuatan BESS. Program tersebut telah diikuti lebih dari 1.000 peserta dari kalangan mahasiswa maupun industri.
Founder NBRI Prof. Evi Kartini mengatakan, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan industri baterai dan kendaraan listrik di Indonesia.
“Melakukan training, pendidikan kepada bisa mahasiswa, bisa industri, belajar baterai,” kata Evi.
Bagi DRMA, pengembangan BESS tidak semata-mata diarahkan sebagai produk penyimpanan energi.
Teknologi tersebut diposisikan sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan yang lebih luas, mulai dari penyediaan daya cadangan, peningkatan keandalan listrik, optimalisasi energi terbarukan hingga mendukung kebutuhan pengisian kendaraan listrik.
Irianto menilai, peran BESS akan semakin strategis seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Tidak berlebihan kiranya kalau kami melihat bahwa BESS akan memiliki peran untuk ekosistem kendaraan listrik di masa depan,” tutup Irianto.
Melalui pengembangan BESS, DRMA menargetkan dapat mengambil bagian dalam penguatan ketahanan energi sekaligus memperbesar kapasitas industri baterai nasional.
Strategi tersebut mencakup peningkatan TKDN, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kemampuan manufaktur dari perakitan battery pack menuju produksi sel baterai secara mandiri.