INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menggenjot kesiapan industri agro nasional untuk menembus pasar global. Langkah konkretnya, Kemenperin menyiapkan 16 perusahaan dari sektor rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu melalui Bimbingan Teknis Manajemen Ekspor agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing internasional.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat diolah menjadi produk industri bernilai tambah tinggi dan memiliki daya saing di pasar global. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku industri menjadi bagian penting dari strategi pengembangan industri nasional,” ujar Menperin di Jakarta, Jumat (7/8).

Menurutnya, menembus pasar ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Kesiapan perusahaan memahami karakteristik pasar tujuan, memenuhi persyaratan regulasi, serta membangun citra dan kredibilitas di mata pembeli internasional juga menjadi kunci.

“Pasar global semakin kompetitif dan memiliki persyaratan yang semakin kompleks. Industri nasional harus mampu membaca peluang pasar, memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, serta menunjukkan komitmen terhadap aspek keberlanjutan. Dengan demikian, produk Indonesia tidak hanya mampu masuk ke pasar global, tetapi juga memiliki posisi yang kuat dan berkelanjutan,” jelasnya.

*Bimtek Manajemen Ekspor untuk 16 Perusahaan*

Sejalan dengan strategi tersebut, Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin menyelenggarakan Bimbingan Teknis Manajemen Ekspor pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta.

Kegiatan diikuti 20 peserta dari 16 perusahaan industri rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu. Keempat komoditas ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi dengan peluang pasar internasional.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyebut Bimtek merupakan langkah konkret membekali pelaku industri menghadapi dinamika perdagangan internasional.

“Penguatan akses pasar harus diikuti dengan kesiapan industri. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan membaca peluang pasar secara tepat, memahami persyaratan negara tujuan ekspor, serta mampu menyampaikan keunggulan produknya secara efektif kepada calon pembeli global,” ujar Putu.

Materi Bimtek mencakup pemanfaatan _market intelligence_ untuk mengidentifikasi peluang pasar, pemenuhan _quality assurance_ dan _food safety_ sesuai regulasi negara tujuan, hingga penyusunan _Sustainability Company Profile_ dan _Sustainability Pitch Deck_.

“Tren pasar internasional menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan semakin menjadi pertimbangan penting bagi buyers. Karena itu, industri kita harus mampu menunjukkan bukan hanya produk yang berkualitas, tetapi juga bagaimana perusahaan menjalankan proses bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tutur Putu.

Pelaksanaan Bimtek dikemas melalui diskusi kelompok, _sharing session_ pengalaman ekspor, analisis studi kasus, dan workshop penyusunan materi promosi. Tujuannya agar peserta tidak hanya mendapat pengetahuan konseptual, tetapi juga menghasilkan dokumen strategi ekspor yang siap pakai.

Putu menegaskan, penguatan kompetensi manajemen ekspor merupakan bagian dari upaya Kemenperin membangun ekosistem industri agro yang berorientasi pada pasar global.

“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesiapan perusahaan dalam memperluas jejaring bisnis internasional, meningkatkan nilai tambah produk, dan membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan dengan mitra di berbagai negara,” ungkapnya.

Kemenperin optimistis penguatan kapasitas ini akan membuka peluang lebih besar bagi produk industri agro Indonesia di pasar internasional. Produk berbasis rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi berkembang menjadi produk industri bernilai tambah dengan daya saing global.

“Ke depan, kami optimis semakin banyak produk industri agro Indonesia yang akan dikenal dan diterima di pasar dunia. Untuk itu, hilirisasi, peningkatan kualitas, penguatan SDM, serta kemampuan membaca dan memenuhi kebutuhan pasar global harus terus berjalan secara bersamaan,” pungkas Putu.