INDUSTRY.co.id - Berada di garda terdepan Kawasan Timur Indonesia, PT Kawasan Industri Makassar Persero (KIMA) sering kali menjadi rujukan bagi pemerintah provinsi sebagai destinasi investasi bagi pemodal baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Di samping itu KIMA juga di jadikan sebagai salah satu simpul pertumbuhan ekonomi sekaligus penyerapan tenaga kerja.
Sejak berdirinya di tahun 1988, KIMA merupakan salah-satu fasilitas andalan yang mendukung kota Makassar, sebagai pintu gerbang kawasan timur Indonesia. Letaknya juga strategis, karena dihubungkan oleh jalan provinsi dan tol. Letak KIMA juga dekat dengan fasilitas penunjang lainnya, seperti pelabuhan laut, bandar udara dan terminal peti kemas.
Saat pertama kali berdiri, PT KIMA diinisiasi oleh departemen perindustrian sebagai proyek perintisan kawasan industri di Indonesia timur. KIMA sejak awal memiliki luas sesuai dengan izin yang di keluarkan kurang lebih 200 ha, namun dalam perkembangannya hingga saat ini KIMA memiliki luas 330 ha. Jumlah tenant yang ada saat ini kurang lebih 256 tenant, namun yang aktif beroperasi 211 perusahaan.
Bisnis utama KIMA adalah penjualan tanah industri dan penyewaan bangunan pabrik siap pakai (BPSP). KIMA juga memiliki bisnis penunjang sebagai Supporting core busness seperti persewaan gudang, persewaan alat berat, depo kontainer, dan rental Office serta KIMA Logistik khususnya transporter dengan menggandeng pihak lain.
CEO KIMA, Abdul Muis, menegaskan, saat ini KIMA tidak lagi hanya terpaku pada core business yang ada. Tapi dibenahnya agar adapted terhadap perubahan, di antara integrasi pasar, kemajuan teknologi, dan konvergensi digital, E-Commerce. KIMA suka tidak suka harus bertransformasi dalam proses pengembangan kapasitas dan adjusment kapabilitas untuk menangkap berbagai kesempatan dan peluang bisnis yang datang bersamaan dengan turbulensi perubahan tersebut.
Abdul Muis, tidak menampik, kalau penjualan tanah kavling industri yang menjadi core business KIMA akan tergerus dan tergantikan dengan bisnis yang lain. Kedepan KIMA Akan membuat bisnis baru yang kue-nya sangat besar diantaranya pengelolaan limbah medis dan limbah B3.
Memang tantangan terbesar yang di hadapi adalah, KIMA existing saat ini sudah dikelilingi pemukiman masyarakat sehingga tidak bisa lagi melakukan perluasan atau pengembangan. KIMA membutuhkan kawasan baru yang terintegrasi dalam satu tatanan yang dinamakan “smart industrial estate”. Yang mana smart kawasan itu, misalnya pengelolaan Security sistem dengan menghadirkan command center. Sehingga manakala terjadi kebakaran di perusahaan, dengan hanya memencet panic button, command center akan menerima sinyal tersebut seketika pemadam langsung dan Petugas keamanan menuju ke lokasi kejadian.
KIMA kata Abdul, sedang melakukan akselerasi untuk mengejar ketertinggalan dari kawasan yang lain. “Jujur untuk yang existing sekarang, saat ini kami masih jauh sekali dari teman-teman kawasan baik dari segi jumlah aset, laba dan ataupun setoran dividen,”ujarnya.
Akan tetapi , lanjut Abdul, dari segi bisnis penunjang mungkin KIMA lebih banyak, tetapi recurring income yang dihasilkan masih sedikit. Karena memang skala bisnis di Indonesia barat dan Indonesia timur masih berbeda. Namun demikian, Abdul, optimis karena masih ada peluang untuk lebih berkembang di masa yang akan datang.
“Salah satu obsesi kami ke depan adalah membangun kawasan baru di Maros dan Alhamdulillah saat bulan ramadhan lalu kami telah melakukan pembebasan tanah dan mudah-Mudahan izinnya segera keluar. Kami tentu mengharapkan dukungan dari stakeholder yang ada untuk going concern perseroan,”ujarnya.
Soal investasi, menurut Abdul, untuk pembebasan tanah saja dengan asumsi 100 ha, KIMA butuh Rp 700 milyar. Dengan dana tersebut bisa langsung melakukan penjualan tanpa adanya rekonstruksi terhadap lahan yang ada. Artinya KIMA membeli lahan hari ini bisa dijual besoknya. Di banding ada tanah relatif lebih murah akan tetapi butuh waktu dan dana lagi untuk melakukan pematangan.
Orientasi di Smart Kawasan.
Terkait dengan potensi pasar KIMA, menurut Abdul, sesungguhnya sangat besar, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan secara umum yang di atas rata-rata nasional. Terlebih belakangan ini KIMA sering kali di datangi oleh investor yang berkeinginan berinvestasi di KIMA. “Jadi untuk potensi pasar saya kira sangat besar apalagi Makassar menjadi pintu gerbang indonesia timur,”ujarnya.
Menurut Abdul, saat ini KIMA lagi fokus untuk mengembangkan kawasan industri menjadi kawasan yang terintegrasi dengan semua fasilitas dan atau infrastruktur. Dengan perkembangan bisnis yang begitu pesat saat ini, KIMA tidak lagi berharap pada bisnis model masa lalu, yang lebih banyak menghadirkan bisnis konvensional, tapi KIMA akan menghadirkan bisnis yang berorientasi pada Smart kawasan.
“Titik fokus bagaimana memberi nilai tambah bagi tenant sehingga lebih memudahkan dalam mengelola bisnisnya . Kima ingin menjadi service provider bagi tenant. Semua kebutuhan tenant kami siapkan sehingga mereka tidak perlu lagi mencari di luar sana,”ujarnya.
Abdul Muis juga menyinggung soal rencana ekspansi. Menurutnya, ekspansi pembangunan kawasan industri baru adalah salah satu aksi korporasi yang Akan dilakukan oleh perseroan sebagai upaya mengantisipasi tingginya permintaan akan tanah kavling industri. Terlebih dengan adanya kebijakan pemerintahan JOKOWI -JK yang Akan membangun 14 kawasan industri baru di luar pulau Jawa. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang Untuk mendapatkan kue dari kebijakan tersebut.
Saat ini KIMA telah melakukan pembebasan tanah di kabupaten MAROS sebagai salah satu kabupaten Penyangga KOTA Makassar Untuk pengembangan Lokasi kawasan industri Makassar di MAROS. Lokasinya sangat strategis dekat dengan Bandara yang hanya berjarak 3 KM dan Langsung dapat akses tol menuju pelabuhan Soekarno-Hatta dengan jarak 15 KM.
KIMA juga kata Abdul akan memanfaatkan sinergi BUMN. Di mana, sejak RINI SOEMARNO sebagai menteri BUMN RI, program sinergi BUMN sangat gencar. Pihaknya menyadari KIMA menjadi salah satu BUMN yang memiliki size kecil, namun demikian pihaknya tidak berkecil Hati, karena apa yang di inisiasi oleh ibu menteri dalam kerangka sinergi BUMN, turut serta membantu KIMA dalam berkembang. “YA sudah seyogyanya sesama perusahaan plat merah saling mensupport. Yang besar membantu yang kecil agar sama sama berkembang dan muaranya semua ke pemerintah juga,”Ujarnya.
Sinergi BUMN juga kata dia dalam upaya memberdayakan aset yang ada sebagaimana arahan KBUMN. Karena ada beberapa bisnis KIMA yang dikerjasamakan dengan BUMN yang lain yang ada hubungannya dengan KIMA, antara lain pemanfaatan Depo petikemas bekerjasama dengan Angkasa Pura Logistik anak usaha dari Angkasa Pura.
Abdul menyebutkan, dalam menjalankan bisnis, KIMA juga memiliki komitmen dan concern terhadap Ramah Lingkungan. KIMA sudah enam Kali berturut-turut mendapatkan proper biru dan KIMA terus berupaya Untuk bisa naik peringkat ke hijau. “Itu menjadi target kami. Dengan dukungan stakeholder yang ada kami yakin dapat mencapainya,”ujarnya penuh harap.
KIMA juga memilliki perhatian pada pembinaan industri kreatif untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Saat ini KIMA telah membina UKM, yang dikelompokkan dalam beberapa cluster bidang usaha. Ada yang bergerak di industri UKM pengolahan markisa, industri rotan, industri pemanfaatan hasil olah peternakan sapi perah, dan industri peternakan ayam petelur.
Khusus untuk cluster usaha markisa, saat ini untuk membangun kebersamaan di antara pelaku UKM, diadakan arisan bulanan yang tidak hanya berkumpul setiap bulannya tapi mereka mencari solusi dari permasalahan yang di hadapi khususnya permintaan yang banyak saat menjelang hari raya. Mereka bisa saling sharing produk untuk memenuhi permintaan.
KIMA kata Abdul, mencoba menghadirkan sentuhan-sentuhan kreatif terhadap UKM dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk penjualan hasil produk UKM termasuk dalam pendekatan produksi produk halal yang orientasi nya untuk ekspor.
Sementara dalam membangun pola kemitraan dengan mitra binaan, menurut Abdul, pembinaan yang KIMA lakukan dengan mitra binaan sebagai pelaku UKM lebih kepada pembinaan “orang tua kepada anak”. Artinya KIMA mencoba membangun pembinaan berlandaskan kekeluargaan. Ketika mereka menemui masalah, KIMA meminta untuk mereka lebih terbuka terhadap masalah yang dihadapi misalnya seringkali ada mitra binaan yang memiliki hajatan untuk ikut dalam pameran di luar kota tapi mereka tidak punya modal untuk akomodasi dari situ KIMA bisa mensupport mereka dengan membiayai tiket pesawat dan tempat tinggal.