INDUSTRY.co.id - Donri-Donri, sebuah desa yang juga menjadi pusat kecamatan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Dari desa itulah sutera terbaik Indonesia pernah dihasilkan.
Meski rumah-rumah di desa itu masih rumah panggung, namun beberapa telah tampak rumah tembok yang megah. Kesejahteraan masyarakat di sana tak lepas dari sutera dan hasil tani lainnya.
Sutera Soppeng memang sudah dikenal sejak 1960an. Sempat timbul tenggelam, beberapa kali mengalami masa kejayaan, namun hingga kini identitas sutera itu tetap tak mau lepas dari Kabupaten yang dikeliling pegunungan itu.
Salah satu industri rumahan yang dikenal eksis menghasilkan sutera dari hulu hingga hilir adalah CV Reeeling Sutera Soppeng. Perusahaan keluarga ini dinakhodai oleh Hj. Nirwana.
"Ada beberapa petani sutera di desa ini, tapi hanya di sini yang memproduksi sutera dari hulu sampai ke hilir," ujar Nirwana kepada Industry.co.id, Sabtu (26/11/2016).
Diakui Nirwana, sebagian besar masyarakat Donri-Donri memang bertani sutera, tapi jarang yang memprosesnya hingga menjadi kain sutera. Petani sutera di Soppeng hanya mengetahui sampai tataran menghasilkan benang sutera saja. Urusan pemintalan kain merupakan monopoli murni dari pengrajin sutera sengkang.
Mereka menjual benang yang dipintal ke perajin di Kabupaten Sengkang. Karena itulah Sengkang malah lebih dikenal sebagai penghasil sutera daripada Soppeng.
Namun usaha keluarga Nirwana yang telah turun-temurun berbeda dari kebanyakan. CV Reeling memproses sutera sejak masih berbentuk ulat, kokon atau kepompong, pemintalan, hingga tenun menjadi kain. Tidak hanya itu, dia juga memasok bibit dan peralatan untuk bertani sutera ke petani.
Hari itu, usaha milik Nirwana tengah libur karena showroom dan mesin mesin tenun miliknya sedang direnovasi. Nirwana baru saja mendapat hibah dari Pemerintah Kabupaten Soppeng sebesar Rp10 juta. Dengan uang itulah dia kembali memutar mesin dan membenahi usahanya.
Jika tidak libur, Nirwana mengaku biasa mengirimkan ribuan meter kain sutera ke beberapa kota pusat batik di Pulau Jawa sepeti Solo dan Cirebon.
"Biasanya untuk biaya pos saja, saya bisa habis Rp6-10 juta mengirim sutera ke Solo dan Cirebon," ujar Nirwana dengan logat Bugis yang khas.
Perempuan 45 tahun itu pun menunjukkan selembar kain yang sudah dibatik di Solo. Menurut dia, setelah kain itu dilukis batik, harganya akan melonjak tinggi.
"Ini kain batik harganya Rp2 juta, padahal saat masih polos hanya Rp600 ribu."
Karena itulah, Nirwana juga tengah mempersiapkan beberapa peralatan batik cap yang dia datangkan dari Solo, agar proses pembatikan bisa dia lakukan sendiri.
Di desa lainnya, Desa Pising, aktivitas pertanian ulat sutera juga sedang menggeliat. Para petani di desa ini memanfaatkan bangunan-bangunan tua sisa kejayaan sutera yang dibangun oleh JICA, sebuah lembaga nirlaba asal Jepang, pada 1980an.
Wirfa Yuhendri, seorang pegawai Perum Perhutani yang juga menjadi penyuluh petani sutera, mengungkapkan jumlah petani sutera di Kecamatan Donri-Donri pada tahun 1990-an mencapai 1000 orang lebih. Akan tetapi karena tidak adanya kejelasan dari pemerintah dalam bentuk regulasi pasar sutera maka banyak yang beralih profesi.
Dan ditahun 2000-an jumlahnya berkurang sekitar 40 orang lebih. Ini merupakan hal yang sangat sedih mengingat dalam jangka waktu sepuluh tahun saja penurunan jumlah petani sutera soppeng mencapai sekitar 80%.
Wirfa menyayangkan kenyataan tersebut, pasalnya menurut dia sebuah museum di Thailand ada yang memajang alat pemintal benang sutera yang berasal dari Donri-Donri Soppeng.
"Itu berarti Soppeng dahulunya merupakan sebuah kota pusat pemintalan sutera yang besar yang pernah ada di Indonesia," tutur Wirfa.
Menurut dia, tak seharusnya pertanian sutera mengalami pasang surut jika pemerintah ikut andil membina dan mendukung petani sutera. Sebagai komoditas, harga sutera memang sangat gurih yang bisa menjamin kesejahteraan petani.
Wirfa mengungkapkan produksi sutera yang masih mentah hingga jadi selembar kain menghasilkan laba yang besar. Inilah yang diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan petani.
Dalam satu kotak bibit sutera lokal bisa menghasilkan 2-3kg benang yang bisa dijual Rp600-800 ribu per kg.
"Apalagi saat ini kita sudah mulai membiakkan bibit China dan Jepang yang dalam 1 boks bisa menghasilkan 6 sampai 7 kg benang sutera, tegas Wirfa.

Lalu seperti apa keseriusan Pemkab Soppeng untuk membenahi pertanian ulat sutera?
Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak menegaskan keseriusan mengembalikan kejayaan Soppeng sebagai penghasil sutera terbesar di Indonesia, seperti tahun 1972.
"Saya berani mempertaruhkan jabatan saya, agar Soppeng bisa mengembalikan kejayaan sutera," tegas Kaswadi.
Menurut dia, saat itu daerahnya mampu menghasilkan 18.000 ton sutera. Namun akibat hama dentrin pada 1973, produksi sutera menurun. Barulah kemudian pada 1999, kejayaan sutera kembali ke keemasannya. Sutera kembali menurun drastis pada 2005, akibatnya petani pun beralih ke komoditas lain seperti jagung dan kakao.
Menurut politisi yang baru menjalankan roda kepemimpinan selama sembilan bulan ini, dia banyak merogoh kocek pribadi untuk segera mengembalikan sutera sebagai primadona Soppeng.
"Saya sudah berkomitmen dengan petani sutera, daripada menunggu revisi APBD, lebih baik memakai dana pribadi dulu untuk hibah ke petani," tegasnya.(iaf)