INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak dunia pada perdagangan Selasa (28/7/2026) masih melanjutkan tren pelemahan di tengah optimisme pasar terhadap peluang meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski demikian, eskalasi ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah dan Laut Merah dinilai masih berpotensi membatasi penurunan harga.

Sentimen negatif datang setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa Washington tengah melakukan pembicaraan yang konstruktif dengan Iran. Pernyataan tersebut muncul seiring jeda saling serang antara kedua negara yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

"AS sedang melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran," ujar Trump pada Senin. Namun, ia juga mengingatkan bahwa serangan militer akan kembali dilanjutkan apabila proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan damai.

Di sisi lain, Iran masih membuka ruang diplomasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan komunikasi antarpihak terus berlangsung melalui jalur perantara dan menegaskan bahwa negaranya belum meninggalkan upaya penyelesaian secara diplomatik.

Di tengah harapan meredanya ketegangan tersebut, risiko geopolitik justru kembali meningkat setelah Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan adanya serangan drone yang menargetkan sejumlah fasilitas perminyakan, termasuk di Riyadh. Saudi menyebut serangan itu diluncurkan dari wilayah Irak oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran.

Menanggapi tuduhan tersebut, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi meminta dilakukan penyelidikan guna mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Ancaman terhadap pasokan energi juga datang dari Yaman. Kelompok Houthi pada Senin mengklaim telah menyerang Pipa Timur-Barat yang mengalirkan minyak menuju Yanbu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah. Serangan itu disebut sebagai balasan atas intrusi drone Saudi.

Perkembangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak di salah satu jalur pengiriman energi terpenting di kawasan Timur Tengah, sehingga berpeluang menopang harga minyak apabila eskalasi konflik terus berlanjut.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak masih berada dalam fase konsolidasi. Harga diperkirakan berpotensi menguji level resistance terdekat di kisaran US$84 per barel apabila mendapat katalis positif dari meningkatnya risiko geopolitik. Sebaliknya, jika sentimen negatif kembali mendominasi pasar, harga minyak berpotensi turun menguji level support di sekitar US$79 per barel.