INDUSTRY.co.id - Jakarta, Upaya mewujudkan swasembada gula nasional memasuki fase percepatan. Pemerintah menyiapkan langkah besar melalui program peremajaan tanaman tebu (bongkar ratoon) secara masif yang ditopang pembiayaan negara, penyediaan benih unggul, mekanisasi, hingga pendampingan kepada petani.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat rapat koordinasi bersama Direktur Utama PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna, Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), serta perwakilan petani tebu di Nusantara Hall, Kantor Pusat PT SGN, Surabaya, Rabu (22/7/2026).

Bagi pemerintah, peremajaan tebu menjadi pintu masuk untuk mendongkrak produktivitas nasional. Program bongkar ratoon ditargetkan menjangkau sekitar 100.000 hektare setiap tahun, terutama pada tanaman tebu yang telah berusia 7 hingga 15 tahun dan dinilai tidak lagi produktif.

"Hari ini bersama Gubernur Jawa Timur, Dirut PTPN III Holding, Dirut SGN, jajaran direksi dan para GM, kami bangga karena ada kemajuan. Tahun lalu rugi Rp600 miliar, tahun ini insyaallah untung Rp600 miliar. Ini sebuah lompatan," kata Amran.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan kinerja industri gula nasional. Bahkan, ia meminta target keuntungan SGN pada tahun depan tidak berhenti di angka Rp750 miliar, tetapi mampu menembus Rp1 triliun.

"Tahun depan mintanya untung Rp750 miliar, tapi saya minta Rp1 triliun supaya benar-benar terjadi lompatan," ujarnya.

Amran menegaskan, peningkatan produktivitas industri gula merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula putih konsumsi paling lambat tahun 2028 sebagaimana arahan Presiden.

"Perintah Bapak Presiden jelas, swasembada gula putih paling lambat tahun 2028. Itu yang harus kita kejar bersama," tegasnya.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran bagi pelaksanaan bongkar ratoon secara luas. Peremajaan akan dilakukan pada seluruh kebun plasma yang memasuki usia tidak produktif.

"Insyaallah plasma kami akan bongkar sampai habis. Tebu yang berumur 7 tahun, 12 tahun, sampai 15 tahun akan kami bongkar semua. Anggarannya sudah kami siapkan atas persetujuan Bapak Presiden," ungkap Amran.

Selain pembiayaan, pemerintah juga akan memperkuat dukungan berupa mekanisasi pertanian, penyediaan benih unggul, pengolahan lahan, hingga pendampingan budidaya agar produktivitas petani meningkat secara berkelanjutan.

"Di pemerintahan Bapak Prabowo, kebahagiaan petani Indonesia menjadi prioritas. Pengolahan tanah diberikan gratis, dan insyaallah tahun depan kami akan menyiapkan traktor untuk petani plasma Indonesia," katanya.

Sementara itu, PT Sinergi Gula Nusantara menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, pabrik gula swasta, dan petani dalam mempercepat peningkatan produksi gula nasional. 

Sinergi tersebut diwujudkan melalui bantuan bongkar ratoon, mekanisasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan budidaya di tingkat petani.

Rapat koordinasi juga menghasilkan sejumlah langkah strategis, antara lain percepatan bongkar ratoon seluas 100.000 hektare per tahun, penguatan kolaborasi antara SGN, pabrik gula, dan petani, serta komitmen bersama mengawal target swasembada gula nasional paling lambat tahun 2028.

Melalui sinergi pemerintah, BUMN, swasta, petani, dan penyuluh pertanian, pemerintah optimistis lompatan produksi gula nasional dapat segera terwujud sehingga ketahanan pangan Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan.