INDUSTRY.co.id - Jakarta, Program hilirisasi di lingkungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group diminta tidak dilakukan secara terburu-buru. Sebelum dikembangkan dalam skala besar, setiap proyek perlu diuji terlebih dahulu melalui implementasi berskala kecil untuk memastikan model bisnis, formula produksi, hingga tingkat keberhasilan investasi dapat terukur.

Arahan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, saat memimpin rapat bersama jajaran Direksi PT Perkebunan Nusantara (Persero). 

Pertemuan tersebut membahas kesiapan PTPN Group dalam menjalankan program hilirisasi dan pengembangan komoditas strategis sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan dan energi nasional.

Dony menegaskan bahwa seluruh program hilirisasi harus dibangun di atas fondasi perencanaan yang matang dan riset yang komprehensif agar investasi yang dijalankan mampu memberikan hasil optimal.

"Sebelum kita mulai skala besar, teman-teman mesti mencoba dulu di skala kecil untuk mencapai tingkat successful rate-nya mesti at least di berapa untuk return on investment itu bisa tercapai," ujar Dony Oskaria mengutip Instagram @bumn.id.

Menurutnya, pendekatan bertahap akan membantu perusahaan menemukan formula produksi yang paling efektif sekaligus menyempurnakan model bisnis sebelum diperluas ke skala yang lebih besar.

Selain itu, setiap rencana investasi juga harus didukung studi kelayakan yang komprehensif, perhitungan produktivitas lahan yang akurat, serta proyeksi tingkat pengembalian investasi yang sehat sehingga proyek hilirisasi memiliki dasar ekonomi yang kuat.

Dalam pembahasan tersebut, aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian utama. Dony mengingatkan agar pemilihan lokasi pengembangan tetap memperhatikan fungsi ekologis kawasan, termasuk memastikan lahan yang digunakan tidak mengurangi kawasan resapan air.

Melalui pendekatan yang terukur, berbasis data, dan dilakukan secara bertahap, program hilirisasi PTPN diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan nasional, memperkuat ketahanan pangan dan energi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis.