INDUSTRY.co.id - Jakarta, Transformasi bisnis dan langkah streamlining Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai tercermin pada kinerja PT Pupuk Indonesia (Persero). Pada Semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun atau melonjak 253% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

EBITDA tercatat Rp14,28 triliun, tumbuh 140%, sementara pendapatan meningkat 51% menjadi Rp59,67 triliun.

Di tengah capaian finansial tersebut, perusahaan menegaskan bahwa penguatan kinerja diarahkan untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional melalui peningkatan layanan kepada petani.

Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, menilai keberhasilan transformasi BUMN sektor pangan tidak semata tercermin dari pertumbuhan laba, tetapi dari kemampuannya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi bagi petani. 

Menurutnya, manfaat nyata bagi petani menjadi ukuran utama keberhasilan transformasi.

Pandangan itu sejalan dengan peningkatan penyaluran pupuk subsidi yang naik dari 6,18 juta ton pada 2023 menjadi 8,11 juta ton pada 2025. Di saat yang sama, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk juga turun hingga 20%.

“Pupuk itu sarana produksi yang utama. Bagi pertanian, pupuk harus mencukupi agar produksi tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura terjaga. Bagi petani, yang penting pupuk tersedia dan terjangkau secara harga,” kata Suryo, saat diwawancarai melalui sambungan telepon dari Jakarta.

Suryo yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN) menjelaskan bahwa biaya pupuk dapat mencapai sekitar 30% atau bahkan lebih dari total biaya produksi padi, bergantung pada karakteristik wilayah. 

Karena itu, ia menilai efisiensi korporasi seharusnya diterjemahkan menjadi manfaat yang langsung dirasakan petani.

“Yang penting bukan hanya bagaimana perusahaan menjadi lebih ramping, tetapi bagaimana fungsi untuk mendukung pertanian dan mendukung petani tidak terganggu,” ujarnya.

Sejalan dengan proses streamlining BUMN yang didorong Danantara Indonesia (BPI Danantara), Pupuk Indonesia terus memperkuat strategi bisnisnya. 

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan perusahaan mengembangkan portofolio bisnis non-subsidi dan non-pupuk melalui produk seperti metanol dan clean ammonia. 

Selain itu, perusahaan juga menerapkan skema kontrak bahan baku sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika harga global.

Dalam lima tahun mendatang, Pupuk Indonesia juga menyiapkan revitalisasi tujuh pabrik. 

Upaya tersebut dibarengi dengan peningkatan distribusi pupuk subsidi, penurunan HET sebesar 20%, serta penguatan digitalisasi melalui i-Pubers dan Command Center guna mempermudah proses penebusan pupuk oleh petani.

Rahmad menegaskan, pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang dibukukan setiap tahun, melainkan dari kemampuan perusahaan membangun fondasi bisnis yang tangguh sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah dan memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” kata Rahmad.