INDUSTRY.co.id -Jakarta, Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kini total utang dalam bentuk SBN sudah mencapai Rp3.257,6 triliun per akhir Februari 2018. Angka ini tercatat 80,73 persen dibanding total seluruh utang outstanding pemerintah sebesar Rp4.034,8 triliun.
Di sisi lain, saat ini tingkat imbal hasil (yield) SBN dengan tenor 10 tahun mencapai 6,78 persen per 23 Maret 2018. Imbal hasil ini dianggap lebih tinggi dari Vietnam yang hanya 4,17 persen, Thailand sebesar 2,39 persen, bahkan hingga Malaysia sebesar 3,95 persen. Maka dari itu, tak heran jika bunga surat utang jadi sorotan.
Mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid Rizal Ramli menyebut bahwa masyarakat telah dirugikan oleh keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati lantaran tak bisa menegosiasikan bunga utang menjadi lebih murah.
Hal ini membuat bunga utang yang diperoleh Indonesia tinggi dan penerimaan pajak yang didapat dari masyarakat banyak disedot untuk membayar bunga utang tinggi.
"Saya minta Sri Mulyani tukar bond dengan pembiayaan yang lebih murah, karena harusnya Indonesia di bawah Thailand, Vietnam, dan Filipina," ujar Rizal di Jakarta (29/3/2018).
Ia bahkan menantang Sri Mulyani untuk menukar kembali surat utang luar negeri yang telah dikeluarkan Indonesia agar bisa mendapatkan bunga yang lebih murah dan tak membebani masyarakat.
Menurutnya, Sri Mulyani seharusnya bisa memperjuangkan hal itu lantaran peringkat surat utang Indonesia yang sudah jauh lebih baik.
Penerbitan utang dengan bunga rendah sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Agus D W Martowardojo kala mengisi kursi bendahara negara yang ditinggalkan Sri Mulyani beberapa tahun lalu.
"Ini sudah dibuktikan saat Agus Marto jadi Menteri Keuangan. Bunga bond saat itu turun satu persen di bawah tiga negara lain," kata Rizal.
Pernyataan Rizal pun diamini oleh ekonom. Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menyebut bahwa yield SBN sangat tinggi dibanding global bond yang diterbitkan oleh perusahaan swasta di kisaran 3 persen.
Selain itu, yield SBN saat ini juga masih jauh lebih tinggi ketimbang bunga pembiayaan dari Consultative Group on Indonesia (CGI) yang berada di kisaran 2 hingga 3 persen beberapa tahun lalu.
CGI adalah lembaga donor internasional yang berdiri pada 1992 hingga 2007 guna mengkoordinasikan pinjaman dari luar negeri kepada Indonesia. Lembaga ini didirikan oleh pemerintah Indonesia bersama dengan Bank Dunia.
Dengan yield SBN saat ini, ia menganggap pemerintah tengah mengobral pembiayaan Indonesia karena menurutnya masih ada peluang Indonesia mendapatkan pembiayaan yang lebih baik lagi. Apalagi menurutnya, pembiayaan melalui SBN dianggap rentan dengan beberapa risiko.