INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) kembali mencatatkan kinerja positif pada Semester I 2026 dengan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar atau tumbuh 6,81% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar. Capaian ini memperpanjang tren profitabilitas bank digital tersebut yang selama dua tahun terakhir konsisten membukukan laba di tengah tantangan industri perbankan dan ketidakpastian ekonomi global.

Di tengah tekanan geopolitik, tingginya suku bunga, dan likuiditas industri yang masih ketat, BNC memilih mengedepankan strategi pertumbuhan yang lebih selektif dengan fokus pada kualitas aset, efisiensi operasional, serta penguatan struktur permodalan. Langkah tersebut mulai tercermin pada sejumlah indikator fundamental yang menunjukkan perbaikan sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan hasil kinerja Semester I 2026 merupakan buah dari strategi Perseroan yang menitikberatkan pada pembangunan fondasi bisnis yang sehat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.

"Selama lebih dari lima tahun melayani nasabah sebagai salah satu pelopor bank dengan layanan digital, BNC telah membangun pengalaman, kapabilitas, serta fondasi operasional yang semakin matang. Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif. Kami percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya," ujar Eri.

Secara operasional, total aset BNC mencapai Rp17,45 triliun dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp12,30 triliun. Perseroan juga berhasil meningkatkan dana tabungan menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10% YoY, yang mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap layanan bank digital tersebut.

Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat 6,77% menjadi Rp59,66 miliar, menandakan kontribusi pendapatan nonbunga yang semakin besar terhadap kinerja Perseroan.

BNC juga mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan transaksi digital. Jumlah transaksi QRIS melonjak 124% menjadi 267,4 juta transaksi dibandingkan 119,3 juta transaksi pada Semester I 2025. Sejalan dengan itu, pendapatan dari transaksi QRIS melesat 246% menjadi Rp25,8 miliar dari sebelumnya Rp7,4 miliar.

Di sisi efisiensi, rasio BOPO membaik menjadi 82,31% dari 84,81% pada Semester I 2025. Rasio Return on Assets (ROA) juga meningkat menjadi 3,23% dari 3,09%, menunjukkan kemampuan Perseroan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki semakin kuat.

Kualitas aset pun terus membaik. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 2,99% dari 3,10% pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan menyebut perbaikan tersebut didorong oleh penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting berbasis digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Penguatan juga terlihat pada struktur permodalan. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat signifikan menjadi 50,23% dari 41,27% pada Semester I 2025, sementara modal inti naik 14,52% menjadi Rp4,20 triliun. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang lebih besar bagi Perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

Meski total penyaluran kredit turun 11,79% menjadi Rp7,13 triliun akibat optimalisasi portofolio pada segmen komersial dan korporasi, BNC justru mencatat pertumbuhan pada segmen yang menjadi fokus utama. Kredit konsumer dan UMKM secara gabungan meningkat 6,68% menjadi Rp5,80 triliun dari Rp5,44 triliun pada Semester I 2025.

Memasuki fase berikutnya, BNC mengusung strategi "Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust." Perseroan akan memperkuat profitabilitas dan manajemen risiko, meningkatkan kapabilitas teknologi termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk pengembangan fitur layanan, serta memperkuat kepercayaan nasabah, regulator, dan investor melalui tata kelola perusahaan yang baik.

Eri menegaskan bahwa ukuran keberhasilan BNC ke depan bukan hanya pertumbuhan bisnis semata, tetapi juga kualitas pertumbuhan yang mampu menciptakan nilai jangka panjang.

"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh, kualitas operasional yang terus membaik, dan pengalaman lebih dari lima tahun sebagai bank dengan layanan digital, BNC kini menjadi bank berbasis digital yang sehat dan siap memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh stakeholders," tutup Eri.