INDUSTRY.co.id - Jakarta, Realisasi investasi di Indonesia sering kali berbeda dengan permohonan aplikasi investasi. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan realisasi dan permohonan investasi di Indonesia.
Erick Hadi selaku CEO Electronic Science Indonesia mengataka, realisasi investasi terutama untuk penanaman modal asing (PMA) yang sudah membangun kantor atau pabrik dapat dilihat dari beberapa faktor.
"Ada 6 (enam) faktor yang mempengaruhi laju investasi PMA di kawasan industri," ujar Erick kepada INDUSTRY.co.id di Jakarta, Selasa (30/1/2018).
Adapaun keenam faktor tersebut yaitu:
1. Perkembangan laju bisnis mereka secara organik.
2. Kondisi sektoral dan ekonomi.
3. Kondisi tenaga kerja dan peraturan upah.
4. Kondisi beban biaya atau retribusi dari daerah, provinsi, maupun pusat.
5. Kondisi logistik dan infrastruktur yang mungkin berubah.
6. Kondisi peraturan dan Undang-Undang yang berdampak terhadap bisnis.
Menurutnya, kondisi tersebut dibuat secara asumsi fixed (karena tidak bisa dihitung variable-nya). Namun, setelah bisnis berjalan ada faktor-faktor tambahan yang kemudian tidak bisa terukur dan menyebabkan delay investasi berlanjut.
"Pengalaman kami, untuk PMA sebenarnya sudah ada jalurnya untuk terus update mengenai perkembangan realisasi investasi serta melaporkan kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, yaitu via laporan berkala ke BKPM (per kuartal dan per semester)," terangnya.
Namun, lanjutnya, seringkali laporan dan masukan tersebut tidak bisa segera ditindak-lanjuti, karena beberapa faktor yang ada di pemangku kebijakan. "Akhirnya dibutuhkan lobi-lobi tertentu supaya investasi bisa terus mengucur," tegas Erick.
Menurutnya, secara umum perusahaan terutama PMA, akan bergairah untuk menanamkan investasinya di Indonesia, dengan pandangan bahwa bisnis mereka bisa terus bertumbuh kembang dan menarik banyak tenaga kerja lokal disini.
Disisi lain, ia menyetujui bahwa realisasi investasi mungkin tidak banyak yang sesuai dengan rencana awal. Namun, yang lebih penting lagi bagaimana kita cermati kenapa hal ini bisa terjadi.
"Apalagi jika perbedaan yang terjadi antara rencana awal dengan ralealisasinya dalam total jumlah yang masif," tutur Erick.