INDUSTRY.co.id - Jakarta, Memasuki tahun 2018, kendati masih dibelit oleh persoalan besarnya pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF), aset perbankan syariah nasional mampu bertumbuh menembus batas psikologis 5%.

Advertisement

Bahkan otoritas perbankan nasional optimistis bahwa aset perbankan syariah berpotensi naik menjadi 20% berbanding aset koleganya yang konvensional.

Disampaikan  Gubernur BI Agus DW Martowardojo beberapa waktu lalu, ia meyakini dalam kurun waktu lima tahun  ke depan, aset perbankan syariah akan mencapai 20%. 

Advertisement

 "Kalau keuangan syariah sekarang masih ada di kisaran 5% dari total aset keuangan kita. Harusnya bisa mencapai 20% dalam waktu yang tidak lama, yaitu dalam waktu lima tahun ke depan," ujar Agus Martowardojo.

Menurutnya proyeksi itu bisa terwujud dengan syarat  industri ini diiiringi oleh kemajuan sektor riil syariah yang selama ini belum optimal tergarap.

Advertisement

Bicara soal optimisme pertumbuhan perbankan syariah, tampaknya akan sangat klop jika mendengar penjelasan dari Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Consultant.

Dalam paparannya soal Outlook  Perbankan Syariah 2018 di Jakarta beberapa saat lalu, Adiwarman menyebutkan  kinerja perbankan pada tahun 2017 memang masih diwarnai oleh situasi sulit.

Advertisement

Ia menyebut para bankir yang  masih fokus terhadap penyelesaian kredit macet, baik bank konvensional maupun bank syariah.

Terdapat beberapa faktor yang akan menjadi pengurang pertumbuhan kredit Perbankan yaitu banyaknya hapus buku, pelunasan angsuran, penjualan kredit maupun penjualan dipercepat yang dilakukan oleh Perbankan, ujarnya. 

Dengan situasi tersebut maka ia memproyeksikan jumlah kredit pada akhir tahun 2017 hanya meningkat 13,88% dari data aktual kredit dan pembiayaan sebesar Rp 4.413 triliun, meningkat menjadi Rp 4.934 triliun.

Namun demikian ia melihat tahun 2018 sebagai permulaan 'golden year', tahun keemasan bagi industri perbankan syariah, setelah industri ini mengalami 'suffer' dalam tiga tahun terakhir akibat jebloknya harga komoditas yang membekas dalam bentuk non performing financing (NPF).

Dikatakan Adiwarman,  bank syariah di tahun 2018 diproyeksikan bakal mencatatkan sejumlah kinerja yang baik.

Ia menyebut tingkat  Return on Asset yang   akan kembali ke angka seperti tahun 2015,  di angka 4,38%.

Tekanan pada ROA bank syariah sempat terjadi pada tahun 2016, yang mencapai angka terendah sebesar  3,42%.

Diperkirakan pada  tahun 2017 ini  ROA akan lebih tertekan lagi di angka 2,09%.  Di tahun  2018 (akan membaik, red) untuk perkiraan normalnya akan berada di angka  3,39% dengan angka optimis ROA di angka 4,09%, ujarnya.

Di tahun 2018, angka pembiayaan bermasalah pun diperkirakan akan semakin rendah. NPF  perkirakan akan mencapai angka 1,5%-1,8%.

Melansir data dari Otoritas Jasa Keuangan, tingkat NPF perbankan syariah per Agustus 2016 tercatat rata-rata sebesar 3,22%, sedikit melunak menjadi 3,05% di Agustus 2017.

Namun masih di level yang cukup tinggi, kendati masih di bawah batas yang ditetapkan regulator di angka 5%. Maka penurunan hingga level di bawah 2% merupakan sebuah pemulihan kinerja yang cukup baik.

Sementara  dari sisi aset,  di tahun 2018 diperkirakan akan menjadi sebesar Rp462,03 triliun dalam keadaan pertumbuhan normal, sementara untuk kondisi optimis diperkirakan akan melewati angka 500 triliun untuk pertama kalinya, menjadi Rp501,09 triliun.

Yang jelas di tahun depan akan ada  3 bank BUKU III  di bank Syariah. Yakni BSM yang memang sudah menjadi bank BUKU III, diikuti oleh Bank Muamalat Indonesia yang akan menjadi bank BUKU III, lalu diikuti oleh BRI Syariah, kata Adiwarman.