INDUSTRY.co.id, Sulawesi Utara - Tak hanya terkenal dengan destinasi wisatanya, Sulawesi Utara juga terkenal akan hasil industri kecil menengah (IKM) yaitu komoditas para penghasil pangan.
"Makin banyak kunjungan wisman asal Tiongkok ke Sulut, maka produksi pangan dari IKM meningkat, menyesuaikan dengan permintaan yang bertumbuh bagus," kata Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw di Manado, Kamis.
Jenny mengatakan makin banyak wisman yang datang ke Sulut, produksi produk pangan makin tinggi karena permintaan cukup banyak.
Sejak dibukanya penerbangan carter Manado-Tiongkok, katanya, produk IKM khususnya pangan di Sulut makin meningkat.
"Hal ini memberikan angin segar bagi IKM di Sulut karena permintaan yang tinggi dan juga meningkatkan kesejahteraan," jelasnya.
Apalagi, lanjut dia, wisman asal Tiongkok memiliki pola makan hampir sama dengan Sulut sehingga mempermudah IKM untuk memasarkan produknya.
"IKM harus memanfaatkan kesempatan ini, dan berusaha memberikan produk yang berkualitas tinggi karena akan menentukan kelangsungan usaha," katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Moh Edy Mahmud mengatakan wisman asal Tiongkok mendominasi kunjungan ke Provinsi Sulut.
"Sejak tahun lalu, hampir setiap bulan wisman asal Tiongkok paling banyak yang datang ke Sulut," kata Edy Mahmud.
Dia mengatakan hal ini sangat baik, karena semakin banyak wisman yang datang ke Sulut, juga akan diikuti oleh sumbangan devisa bagi negara.
Ia menjelaskan kunjungan wisman Tiongkok yang tinggi ini, tak lepas dari dukungan Pemerintah Sulut yang membuka rute langsung penerbangan Manado-Tiongkok.
"Memang, baru penerbangan sewa, namun dampaknya cukup besar, karena secara kontinyu," jelasnya.
Wisman yang datang ke Sulut paling banyak berasal dari Tiongkok, yaitu sebanyak 5.947 orang (77,36 persen), diikuti oleh Jerman 281 orang (3,66 persen), Singapura 202 orang (2,63 persen), Amerika 132 orang (1,72 persen).
Kemudian, katanya, dari Inggris 113 orang (1,47 persen), Perancis 103 orang (1,34 persen), Malaysia 101 orang (1,31 persen), Belanda 100 orang (1,30 persen), Hongkong 69 orang (0,90 persen), dan Australia 48 orang (0,62 persen). (Ant)