INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Hubungan pertemanan di tempat kerja dinilai semakin berperan dalam menjaga produktivitas sekaligus menekan tingkat pergantian karyawan (turnover). Di tengah persaingan mendapatkan talenta, budaya kerja yang sehat dan relasi antarkaryawan disebut menjadi faktor penting yang membuat pekerja bertahan, bahkan ketika kompensasi bukan lagi satu-satunya pertimbangan.

Temuan tersebut diungkap dalam Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by SEEK pada Januari 2026. Laporan itu menunjukkan bahwa meski kompensasi masih menjadi alasan utama saat menerima atau mempertahankan pekerjaan, kebahagiaan pekerja Indonesia justru lebih banyak didorong oleh hubungan interpersonal yang kuat dengan rekan kerja, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta perasaan bahwa pekerjaan yang dijalankan memiliki tujuan (purpose).

Berdasarkan riset tersebut, sebanyak 54% pekerja masih menginginkan gaji yang lebih tinggi. Namun, faktor finansial dinilai tidak selalu cukup untuk mempertahankan karyawan. Sebaliknya, 77% responden mengaku kehadiran rekan kerja dan tim yang suportif menjadi pemicu utama kebahagiaan ketika menghadapi beban kerja yang tinggi. Dukungan sosial tersebut dinilai mampu menjadi penahan stres, mencegah burnout, sekaligus mengurangi keinginan untuk mengundurkan diri.

Selain memperkuat retensi, hubungan yang baik antarkaryawan juga berdampak pada efektivitas kerja. Jobstreet mencatat sebanyak 76% pekerja Indonesia menilai lokasi dan atmosfer kerja yang kondusif membantu membangun rasa saling percaya. Lingkungan kerja yang terbuka membuat karyawan lebih mudah berbagi ide, memberikan masukan secara konstruktif, serta menyelesaikan persoalan bersama dengan lebih cepat.

Riset tersebut juga menemukan bahwa ikatan tim yang solid membantu karyawan memahami makna dari pekerjaan yang mereka lakukan. Sebanyak 75% responden menyatakan bahwa perasaan memiliki tujuan dalam bekerja menjadi faktor penting yang memengaruhi kebahagiaan. Ketika bekerja bersama rekan yang memiliki visi serupa, target organisasi dinilai berubah menjadi misi bersama yang mendorong rasa memiliki lebih besar.

Di sisi lain, hubungan interpersonal yang positif juga menciptakan psychological safety atau rasa aman secara psikologis. Dalam lingkungan yang saling menghargai, karyawan dinilai lebih berani berinovasi, mengambil keputusan, dan saling mendukung ketika perusahaan menghadapi tantangan bisnis.

Jobstreet by SEEK menilai temuan tersebut menjadi pesan penting bagi para pemimpin perusahaan dan praktisi sumber daya manusia (HR). Menurut perusahaan, kompensasi memang efektif menarik talenta, tetapi budaya kerja yang sehat dan hubungan antarkaryawan menjadi faktor yang menentukan apakah mereka akan bertahan dalam jangka panjang.

"Momen Hari Persahabatan Internasional ini menjadi tolak ukur bagi para pengambil keputusan serta rekruter di perusahaan untuk tidak hanya fokus pada operasional maupun teknis untuk mencapai Key Performance Indicators (KPI), tetapi juga secara aktif merancang lingkungan kerja yang memungkinkan komunikasi dua arah dan ruang untuk berinteraksi secara sehat," tulis Jobstreet by SEEK dalam laporannya.

Jobstreet menambahkan, investasi pada budaya kerja yang inklusif, apresiatif, dan saling mendukung tidak hanya meningkatkan tingkat kebahagiaan karyawan, tetapi juga memperkuat retensi tenaga kerja serta produktivitas perusahaan di tengah dinamika pasar kerja yang semakin kompetitif.