INDUSTRY.co.id - Jakarta, Tahun 2017 menjadi tahun yang sangat berat untuk industri ritel Tanah Air. Menurut data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menggambarkan industri ritel masih bertumbuh, namun relatif melambat.

Advertisement

Seperti diketahui, pada semester pertama 2017, pertumbuhan industri ritel hanya mencapai 3,7%. Angka ini menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang bisa mencapai 5-6%.

Aprindo memproyeksikan sampai akhir tahun, pertumbuhan industri ritel Tanah Air bisa mencapai 7-7,5%.

Advertisement

Sementara itu, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira memprediksi, industri ritel akan kembali menggeliat pada tahun depan.

"Pertumbuhan industri ritel tahun depan akan didorong oleh konsumsi rumah tangga," ujar Bhima di Jakarta (20/12/2017).

Advertisement

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menopang pertumbuhan industri ritel tahun depan salah satunya adalah kenaikan dari dana bantuan sosial dari Program Keluarga Harapan (PKH).

"Dengan kenaikan tersebut diprediksi konsumsi rumah tangga akan tumbuh di kisaran 5-5,2%," terangnya.

Advertisement

Namun, lanjutnya, dampak dari tahun politik masih dapat menghambat pertumbuhan  industri ritel Tanah Air. Pasalnya, masyarakat kelas menengah atas cenderung menahan untuk belanja.

"Masyarakat golongan tersebut memilih menyimpan uangnya di Bank. Sehingga diperkirakan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada tahun depan pertumbuhannya masih akan tetap tinggi," kata Bhima.

Disisi lain, Bhima tetap optimis pertumbuhan industri ritel Tanah Air akan berada di atas 5,5% ada tahun 2018. "Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan prediksi tahun ini yang diperkirakan hanya akan berada di level 5%," tutupnya.