INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Penguatan pasokan listrik kembali menjadi tumpuan ekspansi industri di Batam. PT PP (Persero) Tbk menunjuk Black & Veatch untuk mengerjakan desain teknik terperinci pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Batam Bintan 1 berkapasitas 120 megawatt (MW) milik PLN Batam.
Proyek tersebut dinilai strategis karena Batam merupakan salah satu pusat industri, logistik, dan perdagangan yang berada di jalur ekonomi dekat Singapura. Tambahan kapasitas pembangkit diharapkan mampu mengantisipasi pertumbuhan permintaan listrik yang datang dari sektor manufaktur, investasi, hingga ekosistem digital dan data center.
Penunjukan Black & Veatch sekaligus mempertegas meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur kelistrikan yang mampu menopang ekspansi ekonomi Batam. Perusahaan global tersebut akan menyediakan layanan desain teknik terperinci yang mencakup manajemen rekayasa, pengembangan desain, serta dokumentasi teknis untuk mendukung tahap konstruksi PLTGU Batam Bintan 1.
Senior Vice President dan Head of Asia-Pacific and India Black & Veatch Jerin Raj mengatakan kebutuhan terhadap infrastruktur energi yang andal semakin penting seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Sebagai salah satu perekonomian paling dinamis dengan pertumbuhan tercepat di dunia, Indonesia membutuhkan infrastruktur yang semakin andal dan tangguh untuk menopang pertumbuhan dan kesejahteraannya, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan akan ketahanan energi,” ujar Jerin.
Menurut dia, penunjukan Black & Veatch dalam proyek tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap pengalaman perusahaan dalam menangani proyek energi berskala besar di Indonesia dan Asia Pasifik.
“Terpilihnya kami untuk mengerjakan proyek PLTGU Batam Bintan 1 di Pulau Batam mencerminkan kepercayaan klien terhadap keahlian rekayasa Black & Veatch serta rekam jejak kami selama puluhan tahun dalam menangani berbagai proyek energi kompleks di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas,” lanjutnya.
Dari sisi industri, pembangunan PLTGU 120 MW tersebut memiliki arti penting karena pertumbuhan Batam semakin bergantung pada ketersediaan listrik yang stabil. Kawasan ini tidak hanya menjadi basis manufaktur dan logistik, tetapi juga berkembang sebagai lokasi investasi teknologi digital dan pusat data.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam Rudi Antono mengatakan tambahan pembangkit diperlukan untuk memperkuat sistem kelistrikan seiring peningkatan kebutuhan energi di Batam.
“PLTGU Batam Bintan 1 merupakan salah satu proyek strategis PLN Batam untuk memperkuat sistem kelistrikan seiring pertumbuhan kebutuhan energi di Batam,” kata Rudi.
Dia menambahkan, ekspansi industri, investasi, serta ekosistem digital dan data center membutuhkan dukungan infrastruktur listrik yang semakin andal dan efisien.
“Perkembangan sektor industri, investasi, serta ekosistem digital dan data center membutuhkan dukungan infrastruktur kelistrikan yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam proyek tersebut, Black & Veatch akan menangani desain sistem mekanikal, elektrikal, dan instrumentasi. Pekerjaan meliputi penyusunan kriteria desain, penentuan kapasitas peralatan, spesifikasi teknis, gambar teknik, diagram perpipaan dan instrumentasi atau piping and instrumentation diagrams (P&ID), hingga diagram logika kontrol.
Lingkup pekerjaan juga mencakup perhitungan kapasitas peralatan, analisis tegangan, filosofi distribusi listrik, deskripsi sistem, serta berbagai dokumen teknis yang akan menjadi basis pelaksanaan konstruksi.
Kehadiran PLTGU Batam Bintan 1 juga memperlihatkan bahwa pembangkit berbahan bakar gas masih memiliki ruang penting dalam strategi ketenagalistrikan Indonesia. Di tengah agenda transisi energi, pembangkit siklus gabungan dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keandalan sistem ketika kebutuhan listrik terus meningkat.
Bagi Batam, tambahan kapasitas pembangkit bukan sekadar proyek infrastruktur ketenagalistrikan. Keandalan pasokan listrik menjadi salah satu faktor yang menentukan daya tarik investasi, terutama untuk industri yang membutuhkan kontinuitas operasi tinggi seperti manufaktur, teknologi digital, dan data center.
Posisi Batam yang berada di kawasan perdagangan bebas serta berdekatan dengan Singapura membuat kebutuhan terhadap infrastruktur energi semakin strategis. Dengan demikian, pembangunan PLTGU Batam Bintan 1 berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan investasi jangka panjang sekaligus mengurangi risiko keterbatasan pasokan listrik terhadap ekspansi industri.
Black & Veatch sendiri memiliki rekam jejak panjang di Indonesia. Sejak mulai bekerja sama dengan sektor ketenagalistrikan nasional pada 1972, perusahaan tersebut telah terlibat dalam berbagai layanan rekayasa, pengadaan, manajemen konstruksi, studi lapangan, hingga pelatihan tenaga kerja.
Dalam lebih dari lima dekade, Black & Veatch menyebut proyek-proyek energi yang didukungnya di Indonesia memiliki estimasi total kapasitas pembangkitan mencapai 20 gigawatt (GW). Perusahaan saat ini juga terlibat dalam proyek pembangkitan listrik, transmisi, energi terbarukan, pengelolaan air, dan konsultasi infrastruktur.
Pengembangan PLTGU Batam Bintan 1 diumumkan menjelang Enlit Asia 2026 di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pelaku industri energi untuk membahas ketahanan energi, resiliensi sistem tenaga listrik, pembangkitan termal dan energi bersih, modernisasi jaringan, serta peluang investasi infrastruktur energi.