INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong industri furnitur nasional memperluas pasar dan memperkuat daya saing global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Hal itu disampaikan Airlangga secara virtual dalam pembukaan International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA)+ 2026, Kamis (24/9/2026).
"Penyelenggaraan IFFINA+ hari ini menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu," kata Airlangga.
Airlangga mengatakan, Indonesia terus mewaspadai dampak ketidakpastian global melalui penguatan ketahanan ekonomi domestik, stabilitas harga, dan daya saing industri.
Industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi 18,50 persen dan pertumbuhan 4,52 persen secara tahunan (yoy). Salah satu subsektor dengan pertumbuhan kuat adalah industri furnitur sebesar 11,82 persen dan industri pengolahan lainnya sebesar 12,22 persen.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki peluang besar meningkatkan pangsa pasar furnitur dunia melalui penguatan kualitas, desain, keberlanjutan produk, promosi dagang, dan perluasan jejaring dengan pembeli internasional.
Neraca perdagangan industri furnitur Indonesia tercatat surplus sejak 2021. Pada 2025, nilai ekspor mencapai 2.390,68 juta dollar AS, sedangkan impor sebesar 1.917,37 juta dollar AS, sehingga surplus mencapai 473,31 juta dollar AS.
Indonesia menempati peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur dunia pada 2025 dengan pangsa pasar 0,77 persen. Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan menyerap sekitar 60 persen ekspor furnitur Indonesia.
Airlangga menilai, aspek desain furnitur harus terus dikembangkan mengikuti selera pasar yang bergeser ke furnitur fungsional, mudah disesuaikan, dan menggunakan material ramah lingkungan. Basis kayu dan rotan Indonesia dapat dimanfaatkan untuk itu. Produksi kayu bulat pada 2024 mencapai 57,46 juta meter kubik, sekitar 20 persen di antaranya menjadi bahan baku industri pengolahan kayu. Indonesia juga menghasilkan lebih dari 80 persen rotan dunia.
Struktur industri nasional saat ini masih didominasi industri kecil dan menengah (IKM), hampir 99,79 persen dari total 4,45 juta unit usaha industri dengan serapan 65,52 persen tenaga kerja industri.
"Dengan skala ini, industri tentu masih menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan. Dari sisi pasar, pelaku industri juga perlu menyesuaikan diri dengan standar dan regulasi serta selera di negara tujuan," ujar Airlangga.
Pemerintah menyediakan dukungan fiskal bagi industri furnitur, antara lain insentif PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah bagi pekerja yang memenuhi ketentuan, serta akses pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya.
Dukungan daya saing juga diberikan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta fasilitasi promosi ekspor.
Selain itu, kebijakan diarahkan pada pengendalian ekspor kayu bulat, penguatan standar produk dan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), serta penerapan prinsip industri hijau.
Airlangga mengapresiasi Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) atas penyelenggaraan IFFINA+ 2026 dan berharap pameran menghasilkan transaksi dagang, kemitraan, dan perluasan akses pasar internasional.
"Untuk para buyer, importir, investor, kami mengundang Saudara sekalian untuk menjajaki kerja sama dengan pelaku industri Indonesia. Kepada para pelaku usaha nasional, gunakanlah kesempatan ini untuk membangun jejaring, memahami perkembangan pasar, dan memperkuat daya saing industri masing-masing," kata Airlangga.