INDUSTRY.co.id - BOGOR – PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), perusahaan penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pinjaman daring (Pindar), memperkuat jajaran manajemen di tengah agresivitas perusahaan memperluas penyaluran pembiayaan ke luar Pulau Jawa.
Perubahan kepemimpinan tersebut telah disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan berlaku efektif sejak Agustus 2026. Pemegang saham menunjuk Handy Juniandri sebagai Direktur Utama Samir, menggantikan Yonathan Gautama yang kini menjabat Direktur Hukum dan Kepatuhan. Sementara itu, Ettyta Ramadhani ditetapkan sebagai Komisaris.
Pergantian manajemen ini bukan sekadar penyegaran struktur organisasi. Samir menempatkan penguatan tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG), manajemen risiko, serta fungsi pengawasan sebagai fondasi untuk mengejar pertumbuhan bisnis, terutama di sektor produktif dan UMKM di luar Jawa.
Langkah tersebut menjadi penting karena Samir memasuki usia tujuh tahun pada 9 September 2026. Perusahaan melihat ruang pertumbuhan masih terbuka lebar, khususnya dari wilayah yang selama ini memiliki akses pembiayaan formal yang relatif lebih terbatas.
Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan perusahaan akan memperkuat kolaborasi dengan perbankan dan lembaga keuangan formal melalui skema channeling. Strategi ini diarahkan untuk membangun sumber pendanaan yang lebih stabil sekaligus menjaga pertumbuhan pembiayaan tetap sehat.
“Samir berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan bank-bank lain maupun layanan keuangan formal lainnya yang ada saat ini dengan skema channeling untuk menciptakan ekosistem pendanaan yang lebih stabil, efisien, dan terus tumbuh berkelanjutan,” kata Handy di The Michael Resort, Bogor, Jumat (11/9/2026).
Samir juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah bank untuk menjadi institutional lender. Namun, ekspansi pendanaan tersebut akan dibarengi dengan penguatan manajemen risiko dan perlindungan konsumen.
Hingga saat ini, Samir telah memiliki 12 institutional lender. Tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.
“Hingga saat ini, sudah ada sebanyak 12 institutional lender Samir di mana tiga diantaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna. Kehadiran tiga institutional lender dari perbankan jelas semakin memperlihatkan kepercayaan dari korporasi terhadap infrastruktur dan mitigasi risiko yang diimplementasikan oleh Samir semakin kuat,” ujar Handy.
Di sisi penyaluran, Samir mulai menunjukkan pergeseran geografis pembiayaan. Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar, tetapi porsinya terus menurun seiring meningkatnya pembiayaan ke luar Jawa.
Sumatra kini menyumbang sekitar 17% dari pembiayaan Samir. Penyaluran berikutnya tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Papua, serta Maluku, yang masing-masing telah menembus lebih dari 1%.
“Pulau Jawa masih mendominasi namun terjadi penurunan sejalan dengan meningkatnya penyaluran pembiayaan Samir di luar Pulau Jawa dan ini sesuatu yang menggembirakan karena menunjukkan kontribusi Samir dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia,” kata Handy.
Secara kumulatif, Samir telah menyalurkan pembiayaan hampir Rp8 triliun kepada sekitar 2 juta peminjam yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Besarnya basis peminjam tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk terus mendorong pembiayaan produktif, terutama kepada UMKM.
Namun, ekspansi pembiayaan juga membawa tantangan bagi industri Pindar. Pertumbuhan penyaluran harus diimbangi kualitas portofolio, pengelolaan risiko, serta kemampuan perusahaan menjaga kepercayaan lender dan konsumen. Karena itu, masuknya lebih banyak institusi perbankan sebagai sumber pendanaan sekaligus menjadi ujian bagi Samir untuk mempertahankan kualitas tata kelolanya.
Dengan formasi baru di tingkat komisaris dan direksi, Samir kini mengarahkan pertumbuhan bukan hanya pada besarnya penyaluran, tetapi juga pada diversifikasi wilayah dan penguatan ekosistem pendanaan. Strategi tersebut diharapkan memperbesar peran Pindar dalam membuka akses pembiayaan bagi UMKM dan masyarakat di daerah yang belum sepenuhnya terjangkau lembaga keuangan formal.