INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Kemasan berbasis kertas dan paperboard semakin relevan untuk industri makanan dan minuman di tengah pesatnya pertumbuhan bisnis makanan siap saji, takeaway, dan layanan pesan antar. Kementerian Perindustrian mencatat pangsa kemasan kertas dan paperboard mencapai sekitar 28 persen dari total penggunaan kemasan di industri F&B nasional.

Dorongannya semakin kuat setelah Kemenperin pada April 2026 mengimbau industri F&B untuk meningkatkan penggunaan kemasan nonplastik, termasuk yang berbasis kertas dan paperboard.

Namun, Founder Ecopaq Indonesia Anthony Hartono menilai pemilihan kemasan tidak bisa hanya dilihat dari bahannya. Kebutuhan kemasan sangat bergantung pada karakter produk, seperti kandungan minyak, cairan, suhu, durasi penyimpanan, hingga proses distribusi.

"Tidak semua makanan mempunyai kebutuhan kemasan yang sama. Makanan kering berbeda dengan makanan berminyak atau berkuah. Produk yang langsung dikonsumsi juga berbeda kebutuhannya dengan makanan yang harus melalui perjalanan delivery," kata Anthony di Jakarta.

Menurutnya, kemasan kertas harus dilihat sebagai sebuah sistem yang mencakup jenis material, ketebalan, konstruksi, dan lapisan pelindung. Untuk makanan berminyak atau berkuah, diperlukan barrier khusus agar kemasan tidak rembes. Karena itu, kesesuaian spesifikasi menjadi lebih penting dibanding sekadar status "berbasis kertas".

"Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah kemasan terbuat dari kertas atau bukan. Yang lebih penting adalah apakah konstruksi dan spesifikasinya sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan," ujarnya.

Kebutuhan spesifik ini terlihat di berbagai lini usaha F&B, mulai dari UMKM, restoran, katering, bakery, hotel, hingga perusahaan besar. Pada layanan pesan antar, kemasan dituntut kuat, tidak bocor, dan tetap menjaga tampilan produk selama perjalanan. Sementara produk kering memiliki kebutuhan barrier yang berbeda.

Meningkatnya dorongan penggunaan kemasan nonplastik memang membuka peluang besar bagi industri kertas. Namun, Anthony mengingatkan penerapannya tetap harus mempertimbangkan karakter produk, komposisi material, perlindungan terhadap minyak dan cairan, serta pengelolaan kemasan setelah digunakan.

"Material merupakan salah satu bagian dari kemasan. Tetapi fungsi akhirnya tetap harus menjadi pertimbangan utama. Kemasan yang baik adalah kemasan yang spesifikasinya sesuai dengan produk, cara penyajian dan proses distribusinya," kata Anthony.

Ia menambahkan, perubahan pola konsumsi dan pertumbuhan delivery menuntut industri kemasan terus berinovasi. Tantangan ke depan bukan sekadar menambah pilihan, tetapi menghasilkan kemasan yang tepat guna dari sisi fungsi, efisiensi produksi, dan kebutuhan bisnis.

"Industri F&B terus berkembang dan kebutuhan setiap bisnis juga ikut berubah. Bagi industri kemasan, tantangannya adalah memahami kebutuhan tersebut dan menghasilkan kemasan yang tepat guna," ujarnya.