INDUSTRY.co.id - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) terus berkontribusi dalam pengembangan infrastruktur pendukung sektor pertambangan melalui proyek EPC Coal Handling Train Loading Station (TLS) 6 & 7 milik PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). Proyek ini merupakan bentuk kolaborasi antar-BUMN dalam Danantara Group, melalui PTBA dan WIKA, sekaligus mendukung penguatan infrastruktur strategis dan ketahanan energi nasional.
Proyek yang mencakup pekerjaan Engineering, Procurement, Construction, dan Commissioning (EPCC) ini meliputi pembangunan dua jalur conveyor T4 dan T5 sepanjang sekitar 34 kilometer, Dump Hopper 6 dan 7, Train Loading System (TLS) 6 dan 7, Rail Loop dan sistem persinyalan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Hingga saat ini, sebagian besar pekerjaan utama telah selesai dan proyek memasuki tahap penyelesaian akhir, commissioning, serta performance test. Secara keseluruhan, proyek TLS 6 & 7 ini ditargetkan selesai pada Kuartal III 2026.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, mengatakan bahwa pelaksanaan proyek ini menjadi bagian dari komitmen WIKA dalam menghadirkan infrastruktur yang mendukung efektivitas dan keandalan sistem logistik nasional.
“Melalui proyek TLS 6 & 7, WIKA berkomitmen menghadirkan infrastruktur coal handling yang andal, efisien, dan mengedepankan kualitas serta keselamatan. Kami terus memastikan setiap tahapan pekerjaan dapat diselesaikan secara optimal sehingga manfaat proyek dapat mendukung kelancaran sistem logistik batu bara,” ujar Ngatemin.
Pembangunan infrastruktur tersebut juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui pembangunan fasilitas coal handling yang andal dan berkapasitas besar, proyek TLS 6 & 7 diharapkan dapat mendukung kelancaran rantai pasok batu bara sebagai salah satu sumber energi nasional sekaligus meningkatkan keandalan sistem logistik energi.
Setelah beroperasi, TLS 6 & 7 akan memberikan tambahan kapasitas penanganan batu bara sebesar 20 juta ton per tahun. Dengan demikian, total kapasitas TLS 1–7 akan mencapai sekitar 60 juta ton per tahun, dengan kapasitas penanganan hingga 6.000 ton per jam. Infrastruktur ini diharapkan mendukung proses coal handling dan sistem logistik batu bara yang lebih cepat, kontinu, dan efisien.