INDUSTRY.co.idJakarta - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatat pendapatan sebesar Rp17,1 triliun pada semester I 2026 di tengah tekanan industri nikel global. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan produksi dan penjualan di sejumlah segmen usaha, serta optimalisasi kapasitas operasional di rantai nilai nikel yang terintegrasi.

Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengatakan perusahaan tetap menjaga fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas produksi, dan penguatan praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi,” ujar Suparsin dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).

Dari sisi operasional, penjualan bijih nikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas tambang PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025 serta bertambahnya lini produksi fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS).

Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel juga meningkat seiring dengan bertambahnya output dari lini produksi fasilitas RKEF milik KPS. Sementara pada segmen hidrometalurgi, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.

Harita Nickel menyatakan akan terus mengoptimalkan kapasitas produksi secara bertahap untuk meningkatkan fleksibilitas operasional sekaligus menjaga keandalan pasokan bagi pelanggan.

Selain kinerja operasional, perusahaan juga memperkuat aspek keberlanjutan. Harita Nickel melanjutkan Corrective Action Plan sebagai bagian dari evaluasi berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Perusahaan menyebut telah melakukan berbagai studi, memperkuat pelibatan pemangku kepentingan, menyempurnakan sistem pengelolaan lingkungan, serta mempersiapkan audit lanjutan. Harita Nickel juga menjadi perusahaan pertama di dunia yang mempublikasikan perkembangan Corrective Action Plan IRMA sebagai bentuk transparansi kepada pasar.

Di sisi rantai pasok, perusahaan melanjutkan penerapan standar Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dan RMAP+ untuk mendukung ketertelusuran dan kepatuhan terhadap regulasi pasar internasional, termasuk industri baterai kendaraan listrik di Tiongkok dan Uni Eropa.

Harita Nickel juga mempercepat agenda dekarbonisasi melalui proyek waste heat recovery di fasilitas HPAL yang akan memanfaatkan panas sisa proses produksi menjadi listrik dengan kapasitas hingga 50 MW. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026.

Selain itu, proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MW telah mencapai progres konstruksi 99%. Perusahaan juga mempersiapkan transisi penggunaan B50 sebagai bagian dari dukungan terhadap program dekarbonisasi pemerintah.

"Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin operasional, mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas yang telah tersedia, serta terus menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab di seluruh rantai nilai," tutup Suparsin.