INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak mentah bergerak menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026), seiring meningkatnya tensi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang memperbesar kekhawatiran terhadap keberlangsungan pasokan energi global.
Ancaman eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menjadi katalis utama pasar minyak. Ketegangan meningkat setelah Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengancam perang terhadap AS, baik di bidang ekonomi maupun militer.
Rezaei juga menyatakan Iran telah menembakkan rudal canggih ke arah kapal perang AS. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik Iran-AS berpotensi berlangsung lebih panjang dan meluas, terutama jika mengganggu jalur distribusi energi strategis di kawasan.
Risiko pasokan semakin besar setelah Iran pada Minggu mengumumkan rencana menetapkan zona terlarang baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari atau minggu mendatang. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia sehingga setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap harga minyak.
Data pelacakan kapal Kpler yang dirilis Selasa menunjukkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai melambat pada awal pekan. Jumlah kapal yang melintas tercatat tujuh kapal pada Senin, turun dari delapan kapal pada hari sebelumnya.
Pergerakan tersebut menjadi sinyal awal bahwa meningkatnya risiko keamanan mulai memengaruhi aktivitas pelayaran di salah satu titik penting rantai pasok energi global. Pasar pun kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Tekanan terhadap pasokan juga diperkuat oleh proyeksi Goldman Sachs. Bank investasi tersebut pada Senin memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz terus berlanjut.
Proyeksi tersebut menjadi perhatian pasar karena level US$120 per barel akan menjadi harga tertinggi minyak sejak konflik Iran dimulai pada Februari lalu. Jika skenario tersebut terealisasi, lonjakan harga energi berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara sekaligus memperbesar biaya transportasi dan produksi.
Di tengah meningkatnya risiko gangguan perdagangan, Uni Emirat Arab (UEA) mulai memperkuat jalur alternatif untuk ekspor energi dan aktivitas perdagangan. Penasihat kepresidenan UEA Anwar Gargash mengatakan pemerintah sedang menyiapkan sejumlah infrastruktur untuk memastikan kegiatan perdagangan tetap berjalan apabila perang AS-Iran berlanjut.
UEA, menurut Gargash, tengah memperluas kapasitas pelabuhan di pesisir timur sekaligus membangun jaringan pipa, jalur kereta api, dan rute perdagangan baru. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk membentuk koridor alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap jalur yang terdampak konflik.
Langkah UEA tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah mulai mendorong negara-negara produsen energi menyiapkan skenario mitigasi terhadap potensi gangguan rantai pasok. Bagi pasar minyak, keberhasilan diversifikasi jalur ekspor akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa besar dampak konflik terhadap pasokan global.
Dari sisi teknikal, penguatan harga minyak saat ini masih menghadapi resistance terdekat di level US$95 per barel. Jika mampu menembus level tersebut, momentum kenaikan berpotensi berlanjut seiring menguatnya premi risiko geopolitik.
Sebaliknya, apabila muncul katalis negatif dari perkembangan konflik maupun sisi pasokan dan permintaan, harga minyak berpotensi kembali terkoreksi menuju level support US$90 per barel. Dengan demikian, pergerakan harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan terbaru dari konflik Iran-AS, khususnya yang berkaitan dengan keamanan pelayaran di kawasan Selat Hormuz.