INDUSTRY.co.id - BEKASI – Cikarang, Bekasi kini menjadi salah satu kawasan strategis dan jantungnya ekonomi Indonesia . Ya, di atas tanah yang diperkirakan sebagai lokasi Sundapura, ibukota Kerajaan Tarumanagara tahun 358 hingga 669 Masehi, kini berdiri kokoh deretan kota mandiri modern dan kawasan industri raksasa seperti Kota Jababeka, Lippo Cikarang, Bekasi Fajar, hingga Delta Mas City.
Data Pemkab Bekasi tahun 2025 mencatat, Kota Jababeka di Cikarang Utara dihuni lebih dari 1 juta jiwa dengan sekitar 1.700 pabrik multinasional dari Jepang, Korea, Amerika, dan Eropa. Sementara Lippo Cikarang seluas 3.000 hektare dan Delta Mas City seluas 3.200 hektare menjadi pusat manufaktur dan hunian modern.
Secara keseluruhan Kabupaten Bekasi memiliki lebih dari 10 kawasan industri besar dengan ribuan perusahaan yang menjadi objek vital nasional.
Kondisi ini membuktikan bahwa Cikarang Bekasi bukanlah kota baru. Dari dulu hingga kini wilayah ini memang sudah menjadi pusat peradaban dan pusat ekonomi.
Jejak sejarah itu dimulai 1.600 tahun lalu. Menurut para ahli sejarah dan arkeologi, Sundapura sebagai ibukota Kerajaan Tarumanagara diperkirakan berada di wilayah Cikarang Utara hingga Cikarang Barat. Kira-kira lokasi tepatnya sekarang berada di kawasan Kota Jababeka, Cikarang Utara. Bukti terkuatnya ada pada Prasasti Tugu yang menyebut Raja Purnawarman menggali Kali Candrabhaga sepanjang 12,5 kilometer dalam 21 hari untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Kanal itu kini dikenal sebagai Kali Bekasi.

Kerajaan Tarumanagara tahun 358 hingga 669 Masehi adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Wilayah kekuasaannya membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, Depok, Karawang, hingga ke Cirebon. Dari tanah Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri ini juga lahir Maharaja Tarusbawa tahun 669 hingga 723 Masehi, pendiri Kerajaan Sunda. Garis keturunannya berlanjut hingga Ratu Ragumulya tahun 1567 hingga 1579 Masehi, raja terakhir Kerajaan Sunda Kelapa atau Padjadjaran.
Setelah Tarumanagara runtuh, Bekasi dan Cikarang masuk wilayah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Padjadjaran abad ke-14 hingga ke-16. Perannya sebagai penghubung Pelabuhan Sunda Kelapa dengan pedalaman membuat wilayah ini strategis. Hal itu dibuktikan dengan Prasasti Kebantenan, empat lempeng tembaga berisi keputusan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi tahun 1482 hingga 1521 Masehi tentang pembagian tanah di Bekasi dan Karawang.
Memasuki era kolonial, Bekasi berstatus Kewedanan di bawah Regentschap Meester Cornelis. Saat pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945, namanya berubah menjadi KEN Jatinegara. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan berubah. Ibu kota Kabupaten Jatinegara sempat di Tambun, Cikarang, lalu Bojong Kedung Gede.
Tuntutan rakyat memuncak pada 17 Februari 1950. Sekitar 40.000 orang berunjuk rasa di alun-alun Bekasi menuntut pemekaran. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950, lahirlah Kabupaten Bekasi dengan empat kewedanan, 13 kecamatan, dan 95 desa. Mottonya adalah Swantara Wibawa Mukti yang artinya mandiri, berwibawa, dan makmur.
Pada tahun 1960 kantor Pemkab pindah ke Jalan H. Juanda. Tahun 1982 pindah lagi ke Jalan Ahmad Yani Nomor 1 pada era Bupati H. Abdul Fatah. Tanggal 20 April 1982, Kota Administratif Bekasi diresmikan. Wali Kota pertama adalah H. Soedjono.

Perkembangan terus berlanjut. Di era kepemimpinan Drs. H. Mochtar Mohamad tahun 2008 hingga 2013, Dr. H. Rahmat Effendi tahun 2013 hingga 2023, dan Tri Adhianto Tjahyono, Cikarang Bekasi bertransformasi menjadi pusat industri dan kota mandiri.
Kini, dari kanal sepanjang 12,5 kilometer peninggalan Raja Purnawarman, Cikarang Bekasi tumbuh menjadi pusat manufaktur, logistik, dan hunian terbesar di Indonesia bahkan se Asia Tenggara.
Kawasan ini terhubung jalan tol, kereta cepat, dan pelabuhan, kondisi ini menjadi bukti bahwa Sundapura telah hidup kembali. Dulu pusat peradaban Tarumanagara, kini Cikarang Bekasi menjadi jantung industri dan ekonomi nasional.