INDUSTRY.co.id - Jakarta, Bukan sekadar rendang yang dikirim dari Sumatera Barat menuju Nusa Tenggara Timur. Di balik setiap bungkusnya ada kepedulian, gotong royong, dan pesan sederhana bahwa saudara yang sedang menghadapi bencana tidak pernah benar-benar sendirian.

Melansir akun Instagram @asarhumanity_sumbar, kesempatan bagi masyarakat yang ingin ikut membantu saudara-saudara di NTT masih terus dibuka. Akun tersebut juga secara berkala membagikan informasi mengenai bantuan yang diterima maupun proses pendistribusiannya di lapangan.

Ada satu kalimat yang seolah merangkum seluruh gerakan itu: “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”

Dalam falsafah Minangkabau, berat dan ringan dijalani bersama. Semangat itulah yang kembali hidup di tengah dapur-dapur rendang di Sumatera Barat.

Tidak ada yang meminta Sumbar mengirim berton-ton rendang. Namun ketika kabar tentang saudara di NTT yang tengah menghadapi masa sulit datang, masyarakat Minang memilih bergerak.

Bencana pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Sumatera Barat. Pengalaman menghadapi gempa dan kehilangan membuat luka itu tidak sekadar menjadi kenangan. Ia berubah menjadi empati—dan empati itu kini diwujudkan dalam bentuk yang nyata.

Di Sentra Rendang Padang, ratusan tangan ikut bekerja. Bundo Kanduang, niniak mamak, pelaku usaha rendang, hingga masyarakat umum mengambil bagian. Ada yang memasak, mengemas, menggalang dukungan, hingga memastikan bantuan dapat diberangkatkan.

Rendang dipilih bukan tanpa pertimbangan. Makanan ini relatif tahan lama dan dapat langsung dikonsumsi tanpa bergantung pada listrik. Setiap kemasan dibuat sekitar 2,5 ons, ukuran yang diharapkan cukup membantu kebutuhan sebuah keluarga kecil dalam situasi darurat.

Tahap awal pengiriman sebanyak 700 kilogram rendang telah diberangkatkan menggunakan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara dari Padang menuju NTT.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih ada sekitar 4,3 ton rendang yang tengah dipersiapkan untuk menyusul. Dapur-dapur di Padang pun masih terus menyala.

Setiap kilogram rendang yang dikirim bukan hanya membawa makanan. Ia membawa pesan dari tanah Minang kepada saudara di NTT: bahwa di tengah masa sulit, masih ada tangan-tangan yang bersedia ikut memikul beban.

Gerakan tersebut pun menuai beragam apresiasi dari masyarakat dan warganet. Banyak yang melihat aksi ini bukan hanya sebagai pengiriman bantuan, tetapi sebagai gambaran nyata dari semangat kemanusiaan lintas daerah.

Sebab pada akhirnya, bantuan tidak selalu harus datang dalam bentuk yang besar. Kadang, ia berawal dari satu dapur yang menyala, satu tangan yang ikut bekerja, dan satu keyakinan bahwa penderitaan akan terasa sedikit lebih ringan ketika dipikul bersama.

Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.

Dari Sumatera Barat untuk NTT, rendang kali ini bukan sekadar makanan. Ia adalah bentuk kasih sayang yang sedang menempuh perjalanan jauh.