INDUSTRY.co.id - DENPASAR — Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur mulai menunjukkan dampak ekonomi yang lebih luas, seiring kawasan tersebut diarahkan menjadi destinasi kesehatan dan wellness terintegrasi berstandar internasional. Hingga kuartal II 2026, The Sanur mencatat realisasi investasi kumulatif Rp5,342 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 7.445 orang.
Pengembangan kawasan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Indonesia menangkap potensi ekonomi kesehatan yang selama ini banyak mengalir ke luar negeri. Sekitar 2 juta warga Indonesia setiap tahun tercatat mencari layanan kesehatan di mancanegara, dengan sekitar 1,5 juta di antaranya memilih Malaysia dan Singapura.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya ruang pasar yang dapat direbut Indonesia melalui pembangunan ekosistem kesehatan yang tidak hanya mengandalkan layanan medis, tetapi juga menggabungkan akomodasi, wellness, hospitality, hingga wisata berbasis alam.
President Director of InJourney Hospitality Christine Hutabarat mengatakan The Sanur dikembangkan untuk menciptakan standar baru bagi destinasi health and wellness di Indonesia.
“The Sanur merupakan visi kami untuk menghadirkan tolok ukur baru bagi destinasi Health & Wellness terpadu di Indonesia. Kami membangun ekosistem berkelas dunia yang menyatukan layanan kesehatan, wellness, hospitality, dan budaya Bali dalam satu pengalaman yang utuh,” ujar Christine.
Menurut dia, konsep tersebut dirancang agar perjalanan pasien tidak berhenti pada layanan medis. Akomodasi, fasilitas kesehatan, tenaga medis, klinik spesialis, hingga lingkungan pemulihan menjadi satu kesatuan dalam ekosistem kawasan.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman menyeluruh dalam perjalanan menuju kesejahteraan bagi setiap tamu, didukung oleh akomodasi yang nyaman, fasilitas layanan kesehatan berstandar internasional, tenaga medis berpengalaman, serta klinik spesialis berkelas dunia,” katanya.
Dari sisi layanan medis, pengembangan The Sanur bertumpu pada Bali International Hospital. Rumah sakit tersebut menyediakan layanan spesialis seperti kardiologi, onkologi, neurologi, gastroenterologi dan hepatologi, serta ortopedi. Kapabilitas kawasan juga diperkuat dengan kehadiran ICON Cancer Centre dan Sapporo Cardio Vascular Clinic.
Ekosistem layanan kesehatan tersebut diperluas melalui Alster Lake Clinic yang berfokus pada regenerative medicine, cell-based treatments, dan advanced longevity services. Sementara itu, The Solitaire menghadirkan sejumlah klinik estetika seperti World-Class Plastic Surgery, Banobagi, Woori, Hestia, dan Mojelim.
Pengembangan ini memperlihatkan bahwa KEK Sanur tidak sekadar membangun rumah sakit, melainkan mencoba membentuk rantai nilai ekonomi kesehatan dari layanan medis hingga tahap pemulihan pasien.
Rantai tersebut dilanjutkan melalui pilar restorative hospitality dengan kehadiran Bali Beach Hotel, The Heritage Collection, dan The Meru Sanur. Ketiganya disiapkan sebagai akomodasi bagi pasien maupun keluarga selama menjalani rangkaian perawatan dan pemulihan.
Selain menopang aktivitas wisata kesehatan, kawasan juga dilengkapi pusat konvensi dan fasilitas MICE yang ditujukan untuk konferensi, pertemuan bisnis, pameran, hingga kegiatan berskala internasional. Dengan demikian, aktivitas ekonomi yang dibangun tidak hanya berasal dari pasien, tetapi juga dari wisatawan, pelaku bisnis, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan internasional.
Sementara dari sisi wellness, The Sanur mengandalkan Ethnobotanical Garden seluas 4,9 hektare. Fasilitas ini dikembangkan dengan konsep village of healing yang menggabungkan terapi berbasis alam, kesehatan preventif, keanekaragaman hayati, dan pengetahuan tradisional mengenai tanaman herbal Indonesia.
Secara bisnis, skala investasi kawasan tersebut terus menjadi indikator penting. Sampai kuartal II 2026, The Sanur telah memiliki 15 tenant. Realisasi investasi sepanjang periode tersebut mencapai Rp307 miliar atau 24,44% dari target 2026 sebesar Rp1,255 triliun.
Di sisi tenaga kerja, performanya justru telah melampaui target tahunan. Penyerapan tenaga kerja mencapai 2.004 orang atau 225,93% dari target 887 orang sepanjang 2026.
Pengembangan kawasan juga masih berlanjut. The Sanur menargetkan fase pengembangan strategis berikutnya mulai beroperasi pada 2027, dengan menggandeng sejumlah mitra internasional seperti Fontaine Vitale, JEC Eye Hospitals and Clinics, Oakwood Hotel & Residence, serta SO/ Sanur.
Dukungan konektivitas menjadi salah satu modal penting kawasan tersebut. The Sanur memiliki akses langsung menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelabuhan Benoa, sehingga berpotensi memperkuat posisi Bali sebagai pintu masuk wisata kesehatan internasional.
Christine menilai integrasi layanan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing Bali, tetapi juga memperbesar kontribusi sektor kesehatan terhadap pariwisata dan perekonomian nasional.
“Melalui pendekatan terintegrasi ini, kami berharap dapat memperkuat posisi Indonesia di panggung pariwisata global sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata berkualitas di Bali,” ujar Christine.
Dengan investasi kumulatif yang telah menembus Rp5,34 triliun, KEK Sanur kini berada pada persimpangan antara pembangunan infrastruktur kesehatan dan pengembangan industri pariwisata bernilai tambah. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas yang dibangun mampu menarik pasien domestik yang selama ini berobat ke luar negeri sekaligus mendatangkan pasien internasional.
Jika berhasil, The Sanur bukan hanya menjadi kawasan properti dan pariwisata baru di Bali, tetapi dapat menjadi salah satu simpul utama ekonomi kesehatan Indonesia.