INDUSTRY.co.id - Jakarta, Semangat memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bergema dari berbagai penjuru kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).
Tahun ini, perayaan kemerdekaan tidak berlangsung di satu tempat saja. Dari halaman Kampus UI Depok, puncak Gunung Gamalama di Maluku Utara, Negeri Pasanea di Maluku Tengah, hingga jalur panjang Jawa-Bali-Lombok, Merah Putih hadir dalam beragam bentuk perjalanan dan pengabdian.
Di balik perbedaan lokasi dan kegiatan, terdapat semangat yang sama: merayakan kemerdekaan sekaligus meneruskan misi Mapala UI di berbagai wilayah Indonesia.
Misi tersebut mencakup eksplorasi wisata dirgantara, pemberdayaan masyarakat desa, hingga ekspedisi personal yang menguji ketangguhan fisik dan mental.
Merah Putih Raksasa di Gedung Rektorat UI
Di lingkungan kampus, perayaan kemerdekaan ditandai dengan kembali berkibarnya Bendera Merah Putih raksasa berukuran 25 meter di Gedung Rektorat Universitas Indonesia, Depok.
Bendera tersebut menjadi salah satu penanda semarak peringatan kemerdekaan di lingkungan sivitas akademika UI.
Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, menyambut pengibaran tersebut sebagai bagian dari semarak perayaan kemerdekaan sekaligus ruang bagi Mapala UI untuk terus berkembang.
“Untuk tahun ini ada hal spesial terulang lagi, yaitu Mapala UI mengibarkan bendera besar di gedung rektorat UI. Ini menambah semarak perayaan kemerdekaan di UI. Semoga Mapala UI semakin maju dan merekrut anggota lebih banyak lagi dengan berbagai aktivitas dan skill tambahan yang bermanfaat bagi mahasiswa UI,” tutur Heri Hermansyah.
Dari gedung rektorat, semangat Merah Putih kemudian bergerak jauh ke timur Indonesia, mengikuti langkah tim-tim Mapala UI yang tengah menjalankan ekspedisi dan program pengabdian.

Merah Putih di Puncak Gamalama
Di Maluku Utara, Tim Paralayang Mapala UI yang sedang menjalankan ekspedisi Fly The Spice Islands memperingati kemerdekaan dengan menggelar upacara di puncak Gunung Gamalama.
Di tengah lanskap pegunungan dan langit Maluku Utara, Merah Putih dikibarkan sebagai simbol perayaan sekaligus bagian dari misi ekspedisi.
Pengibaran bendera di lokasi tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang bagi lebih banyak penggiat paralayang untuk menjadikan kawasan itu sebagai titik penerbangan pada masa mendatang.
Bagi tim, perayaan kemerdekaan di ketinggian bukan sekadar seremoni. Ia menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenalkan potensi wisata dirgantara Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan yang menyimpan bentang alam sekaligus ruang terbang yang menarik bagi para penggiat paralayang.
Upacara Kemerdekaan Bersama Warga Pasanea
Sementara itu, di Maluku Tengah, Tim Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) 2026 merayakan Hari Kemerdekaan bersama perangkat negeri di Negeri Pasanea.
Tim tersebut mendapat undangan dari Camat Seram Utara Barat untuk mengikuti upacara bersama perangkat negeri sekecamatan. Pasanea sendiri merupakan negeri tetangga dari Negeri Wailulu, lokasi utama pelaksanaan program UIMN 2026.
Di tengah rangkaian program pemberdayaan yang masih berlangsung, upacara kemerdekaan menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antara tim UIMN dan masyarakat setempat.
Semangat kemerdekaan pun hadir bukan hanya dalam kibaran bendera, tetapi juga dalam kebersamaan dan kerja yang sedang dibangun bersama.
Menapak Bumi dari Jawa hingga Lombok
Semangat yang berbeda datang dari perjalanan solo seorang anggota Mapala UI. Melalui ekspedisi bertajuk Menapak Bumi: Bike-Hiking Jawa-Bali-Lombok,
Aqil menempuh perjalanan seorang diri dari Depok menuju Lombok dengan sepeda sekaligus mendaki 13 gunung berketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut.
Perjalanan tersebut dimulai dari Sekretariat Mapala UI, Depok, pada 5 Juli 2026. Dari titik keberangkatan itu, Aqil menempuh rute sepanjang 1.634 kilometer yang membentang melintasi Jawa, Bali, hingga Lombok.
Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan, perjalanan Aqil telah mencapai 1.087 kilometer. Saat itu, ia berada di kawasan Gunung Argopuro, salah satu dari rangkaian gunung yang menjadi bagian dari ekspedisinya.
Tiga bentuk perjalanan—pengibaran bendera di kampus, upacara di puncak gunung dan desa, serta ekspedisi solo lintas pulau—bertemu dalam satu napas yang sama.
Bagi Mapala UI, kemerdekaan bukan hanya momentum untuk mengenang perjalanan bangsa, tetapi juga kesempatan untuk terus berjalan, menjelajah, mengabdi, dan membuka kemungkinan baru di berbagai penjuru Indonesia.