INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR 2026 menjadi kompas utama kebijakan Kementerian Perindustrian.

Fokusnya: mempercepat industrialisasi inklusif, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja untuk mewujudkan kemandirian ekonomi nasional.

“Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat. Bagi Kementerian Perindustrian, arahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi yang inklusif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri,” kata Agus di Jakarta, Jumat (15/8).

Industri Tumbuh 5,32%, Lampaui Ekonomi Nasional

Komitmen tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data BPS, *Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32% yoy* pada Triwulan II-2026. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

Sektor industri pengolahan juga tetap menjadi kontributor terbesar PDB dengan porsi *18,50%* dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi *0,90%*.

“Capaian ini menunjukkan kebijakan Presiden yang berpihak pada industri telah menghasilkan dampak konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui ekonomi nasional,” ujar Menperin.

Kinerja positif ditopang indikator ekspansif: IKBM 52,31, PMI Manufaktur Juli 50,2, dan IKI Juli 53,10. Tiga subsektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah Barang Logam-Elektronik 8,04%, Makanan-Minuman 6,51%, dan Kimia-Farmasi 4,99%.

Eksekusi Lewat SBIN dan Percepatan Hilirisasi

Arahan Presiden diterjemahkan Kemenperin melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strateginya fokus pada penguatan struktur industri, percepatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, perluasan pasar, dan penciptaan kerja berkualitas.

Menperin juga menyambut arahan Presiden untuk mempercepat hilirisasi SDA. Sepanjang 2026, BUMN menargetkan 26 proyek hilirisasi termasuk DME batu bara, tembaga, emas, dan alumina-aluminium.

“Hilirisasi harus kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak kesempatan kerja,” tegas Agus.

Per Mei 2026, industri pengolahan menyerap *13,53%* dari total 148,19 juta pekerja nasional.

Perkuat Pasar Domestik, Masuk Rantai Pasok Global

Selain hilirisasi, Menperin menyoroti pentingnya penguatan pasar domestik. Impor barang konsumsi naik 27,15% yoy menjadi sinyal bahwa permintaan besar harus ditangkap industri nasional.

“Kita punya pasar domestik yang sangat besar. Jangan sampai peningkatan konsumsi justru lebih banyak dinikmati produk impor,” katanya.

Di sisi ekspor, Presiden mencatat 25 perjanjian perdagangan telah berlaku. Menperin meminta perjanjian ini dimanfaatkan untuk ekspor produk manufaktur bernilai tambah.

“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia. Untuk itu kita butuh industri yang produktif, efisien, inovatif, hijau, dan SDM kompeten,” pungkasnya.

"Industrialisasi bukan semata-mata tentang membangun pabrik. Industrialisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah, membangun kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan Indonesia bermanfaat sebesar-besarnya bagi rakyat," tutup Menperin.

-