INDUSTRY.co.id - JAKARTA, PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali membuka opsi impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan armada Jabodetabek. Sebanyak 23 rangkaian atau trainset diusulkan didatangkan mulai akhir 2026, di tengah pertumbuhan jumlah penumpang dan kebutuhan penggantian KRL berusia tua.

Jumlah pengguna KRL Jabodetabek kini telah mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari. Pada saat yang sama, KAI memperkirakan kebutuhan armada pada 2026 mencapai 105 trainset, termasuk untuk operasional, cadangan, dan perawatan.

Keterbatasan armada bahkan berdampak pada tingkat kepadatan sejumlah perjalanan. Di Lin Rangkasbitung, kepadatan disebut mencapai 12 orang per meter persegi, atau sekitar dua kali standar ideal KAI.

Di tengah kondisi tersebut, KAI menghadapi persoalan lain: sebagian armada yang beroperasi sudah berusia lebih dari empat dekade.

Sebanyak 92 trainset telah berusia lebih dari 40 tahun. Ketika usia kereta mendekati 45 tahun, persoalan ketersediaan suku cadang dan risiko kelelahan material atau fatigue menjadi semakin besar.

KAI memperkirakan 87 trainset harus diganti hingga 2031.

Karena itu, impor KRL bekas Jepang diposisikan sebagai solusi sementara sembari menunggu kapasitas industri dalam negeri meningkat.

Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan pilihan KRL bekas dipertimbangkan karena dapat didatangkan lebih cepat, sementara sistem dan teknologinya dinilai sesuai dengan kondisi operasional di Indonesia.

“Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi,” kata Bobby.

Produksi Dalam Negeri Belum Mengejar Kebutuhan

Di sisi lain, KAI sebenarnya telah melakukan pemesanan KRL baru dari PT Industri Kereta Api (INKA).

Sejak 2023, KAI telah memesan 16 trainset KRL baru dari INKA dengan nilai sekitar Rp3,85 triliun. Pengadaan tersebut semula ditargetkan dapat diterima pada 2025.

Namun hingga September 2026, baru tujuh rangkaian yang telah beroperasi.

INKA sebelumnya memproyeksikan kapasitas produksi sekitar delapan trainset per tahun. Dalam realisasinya, kemampuan produksi disebut baru berada di kisaran dua hingga tiga trainset per tahun.

Kondisi tersebut membuat produksi domestik belum mampu sepenuhnya menutup kebutuhan penggantian armada sekaligus pertumbuhan jumlah penumpang.

Persoalan produksi juga sempat muncul pada tujuh rangkaian KRL baru buatan INKA yang telah beroperasi. Seluruh rangkaian tersebut sempat ditarik dari layanan setelah ditemukan satu komponen yang berpotensi mengganggu operasional dan berkaitan dengan risiko fatigue.

Satu rangkaian kemudian kembali dioperasikan setelah dilakukan penanganan.

Wacana mendatangkan KRL bekas dari Jepang sebenarnya bukan hal baru.

Pada 2023, pemerintah menolak rencana impor KRL bekas Jepang berdasarkan hasil review Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ketika itu, pemerintah memilih kombinasi solusi berupa retrofit KRL lama dan pengadaan KRL baru dari INKA.

Kini, persoalan kembali muncul ketika kebutuhan penggantian armada semakin mendesak.

Dengan 87 rangkaian kereta (trainset) yang harus diganti hingga tahun 2031, KRL bekas dari Jepang diproyeksikan menjadi armada transisi hingga industri domestik mampu memenuhi kebutuhan secara permanen. Namun, karena kapasitas produksi dalam negeri saat ini belum mencapai target, PT KAI kembali mengusulkan impor 23 unit KRL bekas dari Jepang sebagai jembatan pemenuhan armada.

Pilihan tersebut kemudian mendapat persetujuan dari Komisi VI DPR.

Bagi KAI, impor bukan dimaksudkan untuk menggantikan produksi dalam negeri secara permanen. KRL bekas Jepang diproyeksikan menjadi armada transisi sampai kemampuan industri domestik dapat memenuhi kebutuhan KAI secara lebih besar.

Di tengah jumlah penumpang yang terus meningkat, persoalan armada kini berada pada dua sisi sekaligus: sejumlah kereta lama harus segera diganti, sementara produksi kereta baru dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan.