INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) optimistis dapat mencapai target marketing sales Rp3,75 triliun sepanjang 2026. Hingga semester I, perseroan telah mengantongi marketing sales Rp1,18 triliun atau setara 32% dari target.

Optimisme itu menurut perseroan ditopang dua hal. Pertama, kuatnya permintaan lahan industri di kawasan Cikarang dan Kendal. Kedua, semakin besarnya kontribusi pendapatan berulang dari bisnis infrastruktur yang tumbuh 15%.

Pada semester I 2026, Jababeka membukukan rugi bersih Rp6,4 miliar. Angka itu berbalik dari laba Rp627,6 miliar di periode yang sama tahun lalu. Namun rugi tersebut murni akibat beban satu kali dari proses refinancing utang Senior Notes dolar AS menjadi pinjaman bank Rupiah.

Beban itu meliputi rugi selisih kurs Rp280,7 miliar dan biaya penghentian derivatif Rp154,6 miliar. Refinancing dilakukan untuk memperpanjang tenor utang menjadi 15 tahun dan mengurangi risiko nilai tukar.

Di luar pos satu kali itu, kinerja operasional Jababeka tetap solid dengan laba usaha Rp524 miliar.

Pendapatan Berulang Jadi Tulang Punggung Baru

Pergeseran model bisnis Jababeka mulai terlihat jelas. Pilar Infrastruktur tumbuh 15% menjadi Rp1,39 triliun. Alhasil, kontribusinya terhadap total pendapatan naik signifikan menjadi 57% dari sebelumnya 45%.

Pertumbuhan itu ditopang kenaikan konsumsi listrik tenant di Cikarang dan Kendal hingga Rp921,6 miliar.

Pendapatan jasa dan pemeliharaan juga melonjak 39% menjadi Rp347,2 miliar.

Sementara Cikarang Dry Port membukukan Rp129,4 miliar seiring volume peti kemas yang naik 13%.

"Kinerja kami pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian Perseroan," ujar Budianto Liman, Wakil Direktur Utama Jababeka dalam keterbukaan informasi di BEI dikutip redaksi pada (12/8/2026).

Ia menegaskan, di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional.

"Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami," lanjut Budianto.

Penjualan Lahan Masih Kuat

Dari sisi penjualan lahan, Jababeka membukukan pendapatan Rp974,9 miliar. Penurunan 32% itu disebabkan perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.

Namun marketing sales tetap on track. Sebanyak 71% berasal dari Kendal dengan penjualan lahan ke produsen baterai dan peralatan rumah tangga. Sementara 29% dari Cikarang untuk sektor tekstil dan importir bahan bangunan.

"Portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta meningkatnya pendapatan berulang akan terus menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," tutup Budianto.