INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Harga minyak dunia mengawali perdagangan awal pekan dengan pelemahan tajam hampir 5% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Tekanan datang dari meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di tengah keputusan OPEC+ untuk kembali menaikkan produksi minyak mulai September 2026.

Sentimen tersebut dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan pembicaraan baru dengan Iran pada Senin (3/8) waktu setempat. Agenda pertemuan itu mencakup upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Pengumuman tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Di sisi lain, Teheran juga menyatakan tengah mendekati kesepakatan dengan Oman mengenai rute baru untuk melintasi Selat Hormuz, sehingga memunculkan harapan berkurangnya risiko gangguan pasokan minyak global.

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari keputusan aliansi produsen OPEC+ yang menyepakati peningkatan produksi sekitar 188.000 barel per hari (bph) mulai September. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya kebijakan pemangkasan produksi sukarela yang sebelumnya dijalankan sejumlah anggota utama.

Meski demikian, OPEC+ belum memberikan kepastian mengenai kebijakan produksi untuk tiga bulan terakhir 2026. Tujuh anggota utama, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 6 September untuk membahas langkah selanjutnya.

Di tengah sentimen negatif tersebut, gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor yang membatasi penurunan harga minyak lebih dalam. Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Bab el-Mandeb turun menjadi 18 kapal pada Minggu, dari 27 kapal pada Sabtu dan 28 kapal pada Jumat.

Sementara itu, jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz juga menyusut menjadi 10 kapal pada Sabtu, turun dari 19 kapal pada Jumat yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan Juli. Penurunan lalu lintas kapal mencerminkan masih tingginya kehati-hatian pelaku usaha terhadap risiko keamanan di kawasan.

Situasi geopolitik juga belum sepenuhnya mereda. Israel kembali melancarkan serangan udara ke Gaza untuk hari kedua berturut-turut pada Minggu yang menewaskan sedikitnya 18 warga Palestina. Perkembangan tersebut meredupkan harapan tercapainya gencatan senjata yang sebelumnya sempat menguat setelah Trump mengklaim adanya kemajuan dalam negosiasi pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak masih berada dalam fase konsolidasi. "Harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel," demikian proyeksi berdasarkan analisis teknikal.