INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, meski perbankan sempat menerapkan kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati pada periode April–Juni 2026, standar kredit diperkirakan kembali lebih longgar pada triwulan III 2026 untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif.

Berdasarkan hasil Survei Perbankan Triwulan II 2026 yang dirilis Departemen Komunikasi Bank Indonesia melalui siaran pers yang disampaikan Direktur Eksekutif Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, penyaluran kredit baru tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 93,08%, meningkat tajam dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar 38,74% dan juga lebih tinggi dibandingkan SBT triwulan II 2025 sebesar 85,22%.

"Survei Perbankan yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tecermin dari nilai SBT penyaluran kredit baru triwulan II 2026 sebesar 93,08%, lebih tinggi dari SBT 38,74% pada triwulan sebelumnya dan SBT 85,22% pada triwulan II 2025," ujar Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers pada Senin (20/7/2026). 

Peningkatan penyaluran kredit terjadi di seluruh jenis penggunaan kredit. Kredit Modal Kerja mencatat SBT tertinggi sebesar 94,34%, diikuti Kredit Investasi sebesar 93,51%, serta Kredit Konsumsi sebesar 83,67%, yang seluruhnya menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Khusus kredit konsumsi, kenaikan didorong meningkatnya permintaan Kredit Pemilikan Rumah/Kredit Pemilikan Apartemen (KPR/KPA), Kredit Kendaraan Bermotor, Kredit Multiguna, serta Kredit Tanpa Agunan. Sementara itu, permintaan kartu kredit masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.

Secara sektoral, peningkatan penyaluran kredit baru paling kuat terjadi pada sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi dengan SBT sebesar 91,86%. Selanjutnya disusul sektor jasa pendidikan sebesar 83,03%, industri pengolahan sebesar 73,78%, konstruksi sebesar 73,37%, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 70,09%.

Di sisi lain, BI mencatat kebijakan penyaluran kredit pada triwulan II 2026 cenderung lebih berhati-hati. Hal tersebut tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang bernilai positif sebesar 1,03. Sikap kehati-hatian terutama diterapkan pada penyaluran KPR/KPA dan kredit konsumsi lainnya, melalui penyesuaian suku bunga kredit, plafon pinjaman, perjanjian kredit, jangka waktu, hingga biaya persetujuan kredit.

Memasuki triwulan III 2026, perbankan diperkirakan masih akan meningkatkan penyaluran kredit baru dengan SBT sebesar 84,65%, meski lebih rendah dibandingkan capaian triwulan II. Prioritas penyaluran diproyeksikan tetap berfokus pada Kredit Modal Kerja, diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.

Pada kredit konsumsi, Kredit Multiguna diperkirakan menjadi prioritas utama, disusul KPR/KPA dan Kredit Kendaraan Bermotor. Sementara berdasarkan sektor ekonomi, kredit baru diprakirakan paling banyak mengalir ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta sektor perantara keuangan.

Bank Indonesia juga memperkirakan standar penyaluran kredit pada triwulan III 2026 akan menjadi lebih longgar. Hal itu tercermin dari ILS yang diproyeksikan bernilai negatif sebesar 2,25. Pelonggaran terutama akan dilakukan pada Kredit Investasi, KPR/KPA, Kredit Modal Kerja, dan kredit konsumsi lainnya, khususnya melalui kebijakan plafon kredit dan persyaratan agunan.

Selain itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga triwulan III 2026 diprakirakan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 87,52%, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan terutama ditopang instrumen tabungan dan giro, sementara deposito diperkirakan tetap meningkat meski dengan laju yang lebih rendah.

Untuk keseluruhan tahun 2026, responden survei memperkirakan pertumbuhan outstanding kredit mencapai 7,51% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,69%. Adapun pertumbuhan DPK pada akhir 2026 diperkirakan sebesar 6,18% (yoy), juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 13,83%.

"Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 tumbuh sebesar 7,51% (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga pada akhir tahun 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 6,18% (yoy), meski keduanya termoderasi dibandingkan perkiraan pada survei sebelumnya," kata Ramdan Denny Prakoso.