INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sebanyak 20 ton gula kelapa produksi PT Integral Mulia Cipta (IMC) resmi diberangkatkan menuju Chicago, Amerika Serikat, Kamis (25/6). Ekspor senilai USD46 ribu atau sekitar Rp822,48 juta tersebut dilepas langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso di pabrik PT IMC, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Pengiriman ini didukung penggunaan Surat Keterangan Asal (SKA) Form B yang menjadi dokumen asal barang sekaligus memberikan kemudahan tarif bea masuk di negara tujuan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa komoditas unggulan daerah memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional apabila pelaku usaha mampu memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan yang telah disediakan pemerintah.
"Kami ingin tumbuh bersama-sama dan meningkatkan ekspor komoditas unggulan daerah. Salah satunya, dengan Kabupaten Banyumas untuk meningkatkan ekspor gula kelapa ke berbagai negara. Pelaku usaha silakan memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan usaha," ujar Budi Santoso.
Ia juga mendorong eksportir untuk aktif mengikuti program business matching dan memanfaatkan fasilitas SKA agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar global melalui pengurangan tarif bea masuk.
Keberhasilan PT IMC menembus pasar internasional menjadi salah satu contoh nyata efektivitas fasilitasi perdagangan. Perusahaan yang berdiri sejak 2012 itu pernah mengikuti business matching virtual dengan pembeli asal Amerika Serikat, memperoleh buyer dari Jerman melalui fasilitasi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg, serta berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia 2024 yang membuka peluang kerja sama baru.
"PT IMC adalah contoh pelaku usaha yang berhasil memperluas jangkauan pasarnya dengan mengoptimalkan fasilitasi perdagangan," kata Budi.
Saat ini PT IMC telah mengekspor produk gula kelapa ke 56 negara yang tersebar di kawasan Amerika, Asia, Eropa, Afrika, hingga Australia. Perusahaan tersebut juga bermitra dengan sekitar 5.000 pemasok bahan baku, termasuk para petani di Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dan Cilacap.
Dalam aktivitas ekspornya, PT IMC memanfaatkan empat jenis formulir SKA, yakni Form B, Form AANZ, Form D, dan Form IJEPA, yang memberikan berbagai fasilitas tarif preferensi di sejumlah negara tujuan ekspor.
Untuk memperluas akses pasar internasional bagi pelaku usaha daerah, Kementerian Perdagangan terus mengoptimalkan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara. Perwakilan tersebut memberikan pendampingan melalui business matching, promosi dagang, pameran internasional, hingga penyediaan ruang promosi dan pertemuan dengan calon pembeli.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kemendag telah memfasilitasi 621 pelaku usaha melalui 333 kegiatan business matching yang terdiri atas 168 sesi pitching dan 165 temu bisnis. Dari kegiatan tersebut tercatat potensi transaksi mencapai USD193,88 juta dengan produk unggulan seperti makanan olahan, rempah-rempah, boga bahari, kopi, cokelat, home decor, sabun, cocopeat, produk plastik, hingga minyak kelapa sawit.
Pada kesempatan yang sama, Kemendag juga meresmikan tujuh Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) baru, termasuk satu di Banyumas. Kehadiran total 103 IPSKA di berbagai daerah diharapkan semakin mempermudah pelaku usaha memperoleh layanan ekspor.
Budi Santoso juga mengapresiasi langkah PT IMC dalam membangun kemitraan dengan ribuan petani lokal. Menurutnya, kolaborasi tersebut sejalan dengan program Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang bertujuan mendorong desa menjadi pusat pertumbuhan ekspor nasional.
"Kita ingin tumbuh bersama. Ekspor itu tidak harus yang besar, tapi bisa yang menengah dan kecil. Ekspor tidak harus dari kota, tetapi bisa dari desa melalui program Desa BISA Ekspor," ujarnya.
Ia turut mengundang para pelaku usaha untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 sebagai ajang memperluas jaringan bisnis sekaligus mempromosikan produk Indonesia kepada calon pembeli dari berbagai negara.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyambut baik dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan ekspor daerah. Menurutnya, gula kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan Banyumas yang memiliki prospek besar di pasar internasional.
"Kami berkomitmen untuk mendukung ekosistem yang kondusif untuk pertumbuhan ekspor daerah agar produk unggulan kita makin dikenal dan diminati di pasar global," kata Sadewo.
Sementara itu, Direktur PT Integral Mulia Cipta Mario Ngensowidjaja mengungkapkan tingginya permintaan gula kelapa Indonesia di pasar dunia, khususnya Amerika Serikat dan Eropa.
"Permintaan gula kelapa di luar negeri sangat luar biasa. Gula kelapa menjadi intan permatanya produk Indonesia untuk ekspor, ini benar-benar mendukung devisa negara," ujarnya.
Kinerja ekspor produk gula Indonesia juga menunjukkan tren positif. Dalam periode 2021–2025, ekspor kelompok produk gula (HS 170290) tumbuh rata-rata 9,61 persen. Sementara pada Januari–April 2026, nilai ekspornya mencapai USD42,67 juta atau meningkat 45,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.