INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Transformasi digital manufaktur Indonesia semakin menjadi kebutuhan mendesak di tengah ketatnya persaingan global dan perubahan lanskap industri yang bergerak cepat. 

Perusahaan kini tak hanya dituntut meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membangun sistem operasional yang terintegrasi, adaptif, dan berbasis data.

Implementasi teknologi seperti Enterprise Resource Planning (ERP), Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), hingga cloud computing menjadi fondasi penting dalam strategi modernisasi industri. Dalam konteks ini, Epicor mengambil peran aktif mendorong percepatan digitalisasi manufaktur di Indonesia.

Vice President Asia Epicor, Vincent Tang, menilai kesadaran terhadap digitalisasi manufaktur di Indonesia sebenarnya sudah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pun terus mendorong implementasi Industri 4.0 melalui berbagai inisiatif strategis.

Menurut Vincent, dibandingkan Singapura atau Malaysia yang lebih dulu mengadopsi ERP dan sistem digital terintegrasi, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas.

“Indonesia adalah pasar manufaktur terbesar di Asia Tenggara. Potensinya sangat besar karena industrinya terus berkembang dan investasi manufaktur terus bertambah,” ujarnya khusus kepada Industry.co.id baru-baru ini.

Namun, tantangan terbesar bukan lagi soal kesadaran, melainkan bagaimana perusahaan memulai transformasi digital tanpa terbebani kompleksitas dan biaya besar.

Banyak perusahaan manufaktur masih menganggap digitalisasi sebagai proyek besar yang mahal dan rumit. Padahal, transformasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan bisnis.

Pendekatan inilah yang dinilai paling realistis, terutama bagi perusahaan segmen menengah (mid-market). Implementasi dapat dimulai dari ERP dasar, integrasi supply chain, hingga otomatisasi proses tertentu.

ERP kini tidak lagi sekadar sistem keuangan atau inventori. Sistem ini telah berkembang menjadi pusat integrasi data lintas departemen—mulai dari penjualan, produksi, gudang, pembelian, hingga keuangan—dalam satu platform terpusat.

Dengan sistem terintegrasi, perusahaan memiliki visibilitas operasional secara real-time sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Bahkan, ERP memungkinkan simulasi perubahan jadwal produksi ketika terjadi permintaan mendadak dari pelanggan besar.

Selain ERP, AI kini mulai memainkan peran penting dalam operasional manufaktur. Namun, AI hanya efektif jika didukung fondasi data yang terintegrasi dan akurat.

Epicor sendiri telah mengembangkan kapabilitas AI generasi terbaru yang memungkinkan interaksi lebih intuitif dengan sistem ERP, termasuk analisis otomatis berbasis data operasional perusahaan.

Channel Director Southeast Asia Epicor, Adhi Firmansyah, menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar membeli perangkat lunak.

“Yang paling penting adalah bagaimana proses bisnis dari supply chain, finance, hingga operasional bisa terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan,” ujarnya.

Perusahaan yang masih menggunakan proses manual atau sistem terpisah-pisah berisiko tertinggal dalam hal kecepatan dan ketepatan respons terhadap dinamika pasar global.

Transformasi digital juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. Untuk itu, Epicor memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan, salah satunya melalui kerja sama dengan President University.

Vice Rector for Academics, Research, and Innovation President University, Adhi Setyo Santoso, menjelaskan bahwa kolaborasi industri penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan dunia kerja.

Melalui pendekatan bootcamp, magang industri hampir satu tahun, hingga proyek implementasi ERP nyata, mahasiswa dibekali pengalaman langsung menggunakan sistem industri yang sebenarnya.

Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan talenta digital yang siap menghadapi kebutuhan industri manufaktur modern yang semakin terdigitalisasi.

Vincent Tang menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital manufaktur Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan talenta dan ekosistem industri yang kuat.

“Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal manusia. Kami ingin membantu membangun ekosistem, mulai dari teknologi, industri, hingga pengembangan talenta,” tutupnya.

Dengan kombinasi ERP terintegrasi, AI berbasis data, serta penguatan SDM industri, transformasi digital manufaktur Indonesia diproyeksikan akan semakin matang dan mampu meningkatkan daya saing di tingkat global.