INDUSTRY.co.id - Jakarta - Majelis Kesehatan (MaKes) Pimpinan Pusat Aisyiyah resmi menuntaskan program Pendampingan Keluarga Tuntas di tiga wilayah, yaitu Pamijahan (Kabupaten Bogor), Muaro Jambi, dan Kupang. 

Advertisement

Program yang berlangsung selama dua bulan dari Mei hingga Juni 2025 ini menargetkan perubahan pola konsumsi makanan anak, khususnya dalam mengurangi kesalahan persepsi terhadap kental manis yang selama ini dikira susu balita.

Program ini melibatkan 72 pasang orang tua dan balita sebagai penerima manfaat. Mereka mengikuti pertemuan rutin mingguan yang diisi dengan kegiatan edukatif seperti penyuluhan gizi, pelatihan memasak dengan bahan lokal, serta alternatif sehat pengganti kental manis.

Advertisement

"Harapannya masyarakat yang sudah merasakan manfaat dari pendampingan ini bisa menyebarkan pengetahuan ke keluarga lainnya," ujar Dr. dr. Ekorini Listiowati, MMR., selaku Koordinator Divisi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat MaKes PP Aisyiyah.

Kesadaran orang tua terhadap kandungan gizi dalam makanan anak menjadi perhatian utama. Salah satu peserta dari Kupang, Ance, mengaku selama bertahun-tahun menganggap kental manis sebagai susu balita yang aman.

Advertisement

"Dulu kita pikir itu susu. Bahkan ada jargonnya, ‘susu enak sampai tetes terakhir’. Ternyata salah besar," ungkapnya.

Program pendampingan ini membongkar mitos tersebut melalui pendekatan edukatif dan komunikatif yang dilakukan para kader Aisyiyah. Kader-kader ini dinilai memiliki peran sentral karena tak hanya memberi materi, tetapi juga membangun hubungan personal yang mempermudah penyampaian informasi.

Advertisement

PP Aisyiyah berharap semangat perubahan ini tak berhenti di rumah tangga penerima manfaat, melainkan meluas hingga ke komunitas sekitar. Pendekatan ini diharapkan bisa menciptakan efek domino, di mana edukasi gizi yang benar menjadi pengetahuan umum di masyarakat.

Pakar Kesehatan dari Universitas Pasundan, dr. Hj. Alma Lucyati, M.Kes., M.Si., MH.Kes., turut mengapresiasi program ini. Menurutnya, pendekatan edukasi gizi dari rumah ke rumah sangat efektif dan perlu direplikasi.

"Saat edukasi dilakukan di rumah, penyuluhan menjadi lebih dekat dan menyentuh para orang tua. Ini penting karena tren penyakit anak sekarang cukup mengkhawatirkan," jelas Alma.

Ia menambahkan, banyak anak kini mengalami gangguan kesehatan yang sebelumnya hanya ditemukan pada orang dewasa, seperti tekanan darah tinggi bahkan gagal ginjal. Hal ini, menurutnya, berakar dari pola makan yang keliru sejak dini.