INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menghadapi era persaingan ekonomi global yang semakin ketat, Siswadhi Pranoto Loe, pakar logistik dan digitalisasi industri, menegaskan bahwa pendidikan ekspor perlu ditanamkan sejak dini. Bukan hanya sebagai pengetahuan tambahan, tetapi sebagai fondasi utama bagi generasi muda agar mampu menjadi pemain aktif di pasar internasional.

Advertisement

“Mindset sebagai eksportir harus dimulai sejak bangku sekolah. Anak-anak perlu dikenalkan pada konsep pasar global, logistik, dan nilai tambah produk agar mereka tumbuh dengan visi internasional,” ujar Siswadhi dalam wawancara langsung di Jakarta.

Menurutnya, ekspor bukanlah hal yang rumit jika dikenalkan dengan pendekatan yang tepat. Di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), misalnya, siswa bisa mulai diperkenalkan pada siklus perdagangan internasional, riset pasar global, hingga praktik simulasi ekspor melalui platform digital.

Advertisement

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI, hanya sekitar 13% dari total ekspor nasional yang disumbang oleh UMKM. Dari angka tersebut, sangat sedikit yang berasal dari pelaku usia di bawah 30 tahun. “Ini menunjukkan bahwa kita belum benar-benar menciptakan jalur ekspor yang ramah generasi muda,” jelas Siswadhi.

Ia menekankan bahwa generasi muda saat ini hidup di era digital, di mana batas negara nyaris tidak terlihat dalam perdagangan. Mereka akrab dengan teknologi, namun belum diarahkan untuk memanfaatkannya sebagai sarana ekspor. Padahal, platform seperti TikTok Shop, Amazon Global Selling, hingga Shopee International kini sangat terbuka bagi pemula.

Advertisement

“Kita tidak bisa berharap mereka menjadi eksportir di usia 30-an jika sejak SMA tidak ada pembelajaran tentang potensi pasar global. Pendidikan harus menjadi garda depan dalam membentuk mentalitas pelaku ekspor,” tambahnya.

Siswadhi mengusulkan agar kurikulum di sekolah dan kampus tidak hanya berfokus pada produksi barang, tetapi juga strategi menjual ke luar negeri. Materi seperti logistik internasional, branding global, teknik negosiasi lintas budaya, serta regulasi ekspor harus mulai dikenalkan.

Advertisement

Ia juga mendorong kerja sama antara sekolah, pemerintah daerah, dan pelaku industri untuk membuat proyek ekspor kecil-kecilan sebagai bagian dari pembelajaran langsung. “Dengan pendekatan yang benar, kita bisa mencetak eksportir di usia 20-an, bukan hanya pekerja,” tegas Siswadhi Pranoto Loe.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar guru dan dosen juga mendapatkan pelatihan ekspor digital agar mampu membimbing siswa secara konkret. “Mindset ini harus dibentuk dari atas ke bawah, dari pengajar hingga pelaksana,” pungkasnya.