INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Pertamina (Persero) terus memperkuat keandalan infrastruktur energi nasional sebagai fondasi dalam menjaga kelancaran distribusi energi di berbagai wilayah Indonesia.
Upaya tersebut diwujudkan melalui peninjauan langsung Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, ke Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda dan Integrated Terminal (IT) Surabaya, Senin (29/6).
Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur energi strategis di Jawa Timur berada dalam kondisi prima, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat selama musim libur sekolah.
Menurut Iriawan, keberlangsungan pasokan energi tidak hanya menopang aktivitas ekonomi, tetapi juga mendukung sektor transportasi, pertahanan, hingga pelayanan publik. Karena itu, fasilitas-fasilitas strategis harus dijaga agar mampu beroperasi secara aman, andal, dan sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan.
"Saya ingin memastikan kesiapan seluruh lini operasional yang menjadi urat nadi perekonomian dan pemerintahan di wilayah Indonesia Timur siap menjalankan fungsinya dengan optimal," ujar Iriawan.
Di AFT Juanda, perhatian utama diarahkan pada kesiapan pasokan avtur, keandalan fasilitas, serta kualitas pelayanan kepada maskapai penerbangan. Hal tersebut dinilai penting agar kebutuhan bahan bakar pesawat selama periode liburan dapat terpenuhi tanpa hambatan.
Selain memastikan kesiapan operasional saat ini, Iriawan juga mendorong percepatan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia dalam mendukung implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bagian dari transformasi energi nasional menuju target Net Zero Emission Indonesia.
"Tugas menjaga pasokan avtur menuntut toleransi nol terhadap kekurangan stok maupun jeda pelayanan. Juanda harus menjadi salah satu garda terdepan dalam mendukung transformasi energi nasional," tegasnya.
Manager Aviation Fuel Terminal Juanda PT Pertamina Patra Niaga, Dimas Bagus Satriyo Wibowo, menjelaskan AFT Juanda merupakan salah satu simpul strategis distribusi avtur di Jawa Timur.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 20 ribu kiloliter yang didukung delapan tangki timbun, tujuh hydrant dispenser, sembilan unit refueller, serta 49 personel operator.
Tidak hanya melayani kebutuhan avtur di Bandara Juanda, terminal ini juga menjadi titik suplai bagi lima Aviation Fuel Terminal lainnya, yakni AFT Iswahjudi di Madiun, Abdulrachman Saleh di Malang, Dhoho di Kediri, Notohadinegoro di Jember, serta Blimbingsari di Banyuwangi.
Pada kesempatan yang sama, Iriawan juga meninjau Integrated Terminal Surabaya yang merupakan salah satu terminal energi terintegrasi terbesar di Indonesia.
Peninjauan difokuskan pada kesiapan infrastruktur dan jaringan distribusi biosolar B50 yang dijadwalkan mulai diimplementasikan pada awal Juli 2026.
Ia turut mengingatkan pentingnya menjaga keandalan aset-aset strategis seperti tangki timbun, jetty, hingga jaringan pipa agar distribusi energi tetap berjalan lancar dalam berbagai kondisi operasional.
Menutup kunjungannya, Iriawan kembali menekankan bahwa seluruh target operasional dan transformasi bisnis harus dijalankan dengan mengutamakan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).
Menurutnya, budaya Corporate Life Saving Rules (CLSR) harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perilaku kerja seluruh insan Pertamina.
"Budaya CLSR harus melekat dalam perilaku sehari-hari untuk melindungi aset negara dan memastikan setiap pekerja pulang dengan selamat," pungkasnya.