INDUSTRY.co.id - Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara tegas mematahkan pendapat atau pandangan dari beberapa pihak dan pengamat yang mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi dini.

Advertisement

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional meningkat dari kuartal III tahun 2024 yang mencapai 17,18 persen menjadi 19,13 persen pada kuartal IV tahun 2024.

Sektor manufaktur juga merupakan sumber pertumbuhan tertinggi terhadap perekonomian nasional dengan rata-rata 0,90, artinya rata-rata berkontribusi sekitar 20 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional. 

Advertisement

“Kontribusi manufaktur terhadap PDB dari tahun ke tahun terus meningkat, pada tahun 2022 sebesar 18,34 persen, kemudian tahun 2023 menjadi 18,67 persen, dan tahun 2024 lalu kontribusinya 18,98 persen. Jadi, artinya kontribusi industri manufaktur terhadap PDB sejak tahun 2022 selalu meningkat,” kata Menperin Agus di Jakarta (14/2).

Dirinya menegaskan bahwa jika melihat semua data tersebut, seharusnya mematahkan apa yang menjadi pandangan dari para pengamat. “Belum lagi kalau kita membuka buku dan teori-teori yang berkaitan dengan industri dan data-data yang tersedia,” jelasnya.

Advertisement

Disamping itu, apabila melihat kinerja industri otomotif, khususnya pada produksi kendaraan roda dua, saat ini telah mencapai 6,91 juta unit dengan kinerja penjualan yang juga tumbuh sebesar 6,33 juta unit. 

Bahkan, ekspor CBU untuk kendaraan roda dua sudah menembus angka 572 ribu unit, dan untuk CKD-nya mencapai 46 ribu unit, serta untuk part by part sebanyak 153 juta unit. “Melalui kinerja ini, telah banyak melibatkan industri kecil dan menengah,” ungkap Agus.

Advertisement

Dalam waktu dekat, pemerintah juga akan mengeluarkan insentif untuk motor listrik. “Insha Allah dalam waktu dekat akan terbit. Upaya ini diyakini akan turut pula mendukung peningkatan kinerja industri otomotif di Indonesia,” tuturnya.

Selanjutnya, pemerintah juga terus berupaya meningkatkan rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang dinilai masih sangat rendah yaitu 99 unit per 1.000 orang. Artinya, masih ada potensi ruang untuk tumbuh dalam menggenjot kinerja industri otomotif nasional. 

“Rasio kepemilikan kendaraan motor di Malaysia sebesar 490 unit per 1.000 orang, sementara Malaysia itu kira-kira 60 juta penduduknya. Selanjutnya, di Thailand penduduknya yang rtusan juta, rasionya 275 unit per 1.000 orang, di Singapura 211 unit per 1.000 orang, Korea Selatan 530 unit per 1.000 orang, dan Jepang 670 unit per 1.000 orang. Sedangkan Australia 776 unit per 1.000 orang, dan kalau tidak salah, penduduknya cuma 30 atau 40 juta ya,” papar Menperin.

Disisi lain, untuk penggunan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia semakin maningkat. Pada tahun 2024 lalu, populasi kendaraan listrik mencapai lebih dari 207 ribu unit, menigkat cukup tinggi sebesar 78,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, Menperin mengingatkan kepada para produsen agar tidak hanya melakukan impor, tetapi juga mendorong untuk penguatan produksi dalam negeri termasuk pengoptimalan TKDN untuk memberdayakan industri nasional khususnya industri kecil dan menengah (IKM).