INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sebanyak 17 dari 19 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017 berhasil mencatatkan kenaikan harga saham.

Advertisement

Artinya hanya dua perusahaan publik (emiten) baru yang mengalami penurunan harga dari harga perdana yang ditetapkan saat perusahaan menggelar initial public offering (IPO). Data tersebut dipotret dari harga saham masing-masing emiten baru pada penutupan perdagangan tanggal 7 Juli 2017.

Dari data tersebut juga terlihat kenaikan harga yang dialami oleh 17 emiten yang baru listing sepanjang 2017 tersebut beragam mulai antara antara 0,67% hingga 1.538,10% pada penutupan perdagangan 7 Juli 2017, dibandingkan dengan harga sahamnya saat melakukan IPO. Kepala Divisi Komunikasi BEI, Yulianto Aji Sadono dalam keterangan resminya mengatakan Kenaikan harga saham tersebut mengindikasikan bahwa investasi di Pasar Modal Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang signifikan dibandingkan produk investasi lain.

Advertisement

Saham IPO yang mengalami kenaikan tertinggi di sepanjang tahun ini adalah saham dari PT Sanurhasta Mitra Tbk dengan kenaikan 1.538,10%, disusul oleh saham PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk dengan peningkatan 1.527,27% dan saham PT Marga Abhinaya Abadi Tbk dengan penguatan 458,04%, ujar Aji.

Advertisement

Sementara saham PT Megapower Makmur Tbk menjadi saham perusahaan yang dicatatkan paling terbaru, yakni pada Rabu, (5/7), harga sahamnya telah meningkat sebesar 165% dibandingkan harga IPO-nya.

BEI juga menyampaikan, pada Selasa (4/7), Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi BEI yang bertujuan untuk meninjau langsung kondisi bursa efek pasca libur panjang Idul Fitri 1438 H, sekaligus berdialog dengan para pelaku pasar modal Indonesia. Secara khusus Presiden mengapresiasi kinerja IHSG yang sempat menembus rekor pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 5.910,24.

Advertisement

Menurut Jokowi, penguatan tersebut mengindikasikan semakin kuatnya kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional dan momentum tersebut sepatutnya dimanfaatkan. Turut mendampingi Presiden, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida, dan Direktur Utama BEI Tito Sulistio.