INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sejak Januari hingga akhir Juni 2017 pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) Rp395,09 triliun baik dalam bentuk lelang maupun non-lelang.
Ini berarti pemerintah masih mempunyai jatah penerbitan utang sekitar Rp 290 triliun atau sekitar 42,31% pada paruh kedua tahun 2017. Pasalnya target indikatif untuk penerbitan SBN secara total yang dipatok pemerintah tahun ini mencapai Rp395,09 triliun. Adapun angka SBN yang diterbitkan Rp 395,09 triliun setara dengan 57,69% dari target indikatif tersebut.
Dalam keterangan resmi yang diterbitkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kamis (6/7/2017), dirinci bahwa SBN yang diterbitkan pemerintah mayoritas melalui mekanisme lelang, yakni mencapai Rp278,35 triliun atau 70%. Sedangkan sisanya, dilakukan melalui non-lelang yaitu bookbuilding dan private placement.
Dari total penerbitan SBN selama semester I, mayoritas SBN yang diterbitkan adalah Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai Rp273,21 triliun atau 69%. Sedangkan sisanya adalah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan total Rp121,88 triliun atau 31%.
Adapun frekuensi lelang penerbitan SBN yang telah dilaksanakan adalah 25 kali, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Lelang ini, sekaligus menunjukkan bahwa minat investor terhadap penerbitan SBN melalui lelang masih cukup tinggi.
Total permintaan yang disampaikan investor pada lelang SBN mencapai Rp658,94 triliun, permintaan ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2016 yakni sebesar Rp468,75 triliun.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa total utang Pemerintah RI hingga bulan Mei 2017 mencapai Rp3.672,33 triliun.
Utang tadi terdiri dari SBN Rp2.943,73 triliun atau 80,2% dan pinjaman sebesar Rp728,60 triliun atau 19,8%. Penambahan utang neto selama bulan Mei 2017 sebesar Rp4,92 triliun berasal dari penerbitan SBN (neto) sebesar Rp11,03 triliun dan pelunasan pinjaman (neto) sebesar Rp6,11 triliun.
Selama bulan Mei 2017, telah dilakukan lelang penerbitan SBN dengan total penerbitan (bruto) mencapai Rp38,09 triliun, sedangkan penarikan pinjaman (bruto) sebesar Rp1,24 triliun. Adapun pembayaran kewajiban utang di bulan Mei 2017 mencapai sebesar Rp62,98 triliun, terdiri dari pembayaran pokok utang yang jatuh tempo sebesar Rp39,89 triliun dan pembayaran bunga utang sebesar Rp23,09 triliun.
Indikator risiko utang bulan Mei 2017 menunjukkan perubahan tipis untuk risiko tingkat bunga di mana variable rate ratio berada level 11,3 dan refixing rate di level 19,3.
Sedangkan indikator jatuh tempo utang dengan tenor hingga 5 tahun naik dari 37,2% menjadi 38,6% dari total outstanding. Dibanding bulan sebelumnya, rata-rata perdagangan SBN di pasar sekunder bulan Mei 2017 cenderung meningkat.
"Porsi kepemilikan oleh asing atas SBN yang dapat diperdagangkan di bulan Mei 2017 mencapai 39,15 persen. Mayoritas investor asing masih memegang SBN dengan jangka menengah-panjang (di atas 5 tahun)," demikian keterangan resmi DJPPR yang dilansir beberapa waktu lalu.
Sementara itu, imbal hasil SUN, baik domestik maupun SUN Valas, pada akhir bulan Mei turun dibanding posisi akhir tahun 2016, rata-rata penurunan mencapai 59 bps untuk SUN domestik dan 17 bps untuk SUN berdenominasi dolar AS.