INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pada Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia 2022, Jumat (02/12/2022), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan optimismenya bahwa Indonesia bakal bisa menjadi "Raja" baterai kendaraan listrik (electric vehicle/ EV).
Menurut Presiden Jokowi, Indonesia memiliki kekuatan untuk membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik terintegrasi. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya bahan baku pembuat baterai hingga kendaraan listrik itu sendiri, antara lain nikel, tembaga, bauksit, hingga timah.
Optimisme Presiden Jokowi tersebut pun sontak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Anggota Komisi VII DPR Mukhtarudin. Berikut petikan tanggapannya dengan redaksi INDUSTRY.co.id pada Selasa (20/12/2022):

Bagaimana tanggapan anda soal optimisme Presiden Jokowi?
Optimisme Presiden Jokowi bahwa Indonesia akan menjadi "Raja" Baterai kendaraan Listrik ( Electric Vehicle/EV) tentunya Harus kita dukung. Dukungan yang kita berikan tentu sesuai dengan posisi kita masing- masing.
Kami di legislatif, memberikan dukungan antara lain dengan pengajuan Rancangan Undang-Undang Energi Baru & Energi Terbarukan ( RUU EBET) yang salah satu semangatnya adalah akselerasi/ percepatan penggunaan energi baru & terbarukan seperti kendaraan berbasis listrik/ Electric Vehicle (EV) ini.
Begitu juga dengan program hilirisasi tambang oleh Presiden Jokowi, kita wajib dukung. Karena akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi produk- produk tambang tersebut, akan membuka banyak lapangan kerja baru didalam negeri dan yang pasti akan meningkatkan pendapatan negara dari sektor tambang.
Dengan SDA melimpah apakah apakah Indonesia mampu jadi raja baterai dunia, terlebih ada tekanan kuat dari Uni Eropa?
Ini adalah tantangan besar bagi siapapun Presiden di Indonesia. Fakta hingga sekarang serta Sejarah Dunia membuktikan bahwa negara- negara Yang Kaya SDA seperti terkena "kutukan" kesejahteraan. Liberia, Kongo & Madagaskar di benua Afrika maupun Afganistan & Nepal di Benua Asia adalah contoh negara- negara yang memiliki kekayaan SDA namun tidak mampu keluar dari status sebagai negara miskin.
Sebaliknya, negara negara barat dengan kekuatan SDM dan Kapital yang mereka miliki cenderung mampu mengontrol negara miskin - berkembang yang memiliki kekayaan SDA tersebut.
Kita harus belajar dari sejarah tersebut. Indonesia yang sudah memiliki Kekayaan SDA ini harus memiliki roadmap hilirisasi, peningkatan SDM hingga pendanaan, dalam hal ini dibidang EV serta konsisten melaksanakannya.
Bila hal ini sudah dilakukan, saya berkeyakinan Indonesia menjadi "Raja" baterai mobil listrik bukan hal yang mustahil.
Tampaknya pembangunan smelter juga belum berjalan baik lantaran banyaknya hambatan, bagaimana pandangan anda?
Pembangunan Smelter itu adalah proyek besar hilirisasi yang dulu tidak dilakukan oleh Pemerintahan sebelum Presiden Jokowi. Ketika ini digencarkan, tentunya negara - negara yang selama ini mendapatkan keuntungan dari impor mentah bahan tambang dari Indonesia menjadi gusar, termasuk negara -negara Uni Eropa dengan menggugat ke WTO.
Kita tentunya tidak boleh menyerah. Strategi hilirisasi pertambangan yang diantaranya dengan pembangunan banyak smelter untuk ragam jenis bahan tambang di dalam negeri harus dibarengi dengan kelincahan Diplomasi perdagangan Internasional Indonesia di sisi lainnya.
Terakhir, apa masukan anda untuk pemerintah agar keinginan Presiden Jokowi tercapai?
Konsisten lah dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah dibidang ekosistem EV ini. Terlebih pasca Pemerintahan Presiden Jokowi nanti. Seperti hilirisasi produk pertambangan, Penciptaan ekosistem EV serta peningkatan TKDN-nya.