INDUSTRY.co.id, Temanggung –Pengembangan teknologi dan proses pengolahan makanan merupakan salah satu bagian kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pengemasan menjadi satu hal yang sangat penting agar produk makanan mencapai penjualan tinggi.

Advertisement

Hal tersebut ditekankan oleh Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PR TPP), Satriyo Krido Wahono, saat memberi sambutan dalam kegiatan Berbakti untuk Negeri di Temanggung, Rabu (05/10).

Satriyo menjelaskan bahwa BRIN menyelenggarakan kegiatan pelatihan pengemasan produk makanan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI. Kegiatan tersebut untuk menjaring komunitas UMKM di wilayah tersebut agar lebih berkembang dan mampu bersaing bahkan sampai kancah global.

Advertisement

Untuk itu, secara khusus, Satriyo mengenalkan kegiatan penelitian yang dilakukan di pusat risetnya yang berlokasi di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Proses pengolahan pangan terdiri dari berbagai tahap, mulai dari penyiapan bahan mentah lalu dikemas, sampai dengan pemasaran produk jadi di pasaran," jelasnya.

Lebih lanjut, Satriyo menjelaskan dalam proses pemasaran produk, persaingan di tingkat internal justru lebih tinggi dari pada persaingan di tingkat internasional. Maka dari itu, untuk menyatukan pemikiran guna mendorong pengembangan produk makanan merupakan tantangan yang harus dihadapi para pegiat UMKM. Terutama dalam membangun jejaring komunitas untuk maju bersama menghadapi perusahaan besar.

Advertisement

Untuk itu, BRIN menghadirkan instruktur yang sudah berpengalaman dalam proses produksi pangan. Asep Nurhikmat selaku Peneliti dari PR TPP melakukan pendampingan kepada masyarakat UMKM Temanggung untuk membangun geliat UMKM agar lebih berkembang. Salah satu yang menjadi kunci penekanannya yaitu, setiap UMKM harus membuat SOP agar usaha yang dibangunnya bisa stabil di dalam mempertahankan kualitas produk yang dihasilkan.

“Kunci kesuksesan dari setiap usaha produksi makanan dimulai dengan dibuatnya SOP. Sebab di dalamnya sudah terdapat mekanisme yang teratur untuk menciptakan stabilitas sebuah proses,” ungkap Asep.

Advertisement

Lebih lanjut, ia juga mengungkap rahasia sukses agar produk makanan laku di pasaran. Teknik pengemasan menjadi tahapan yang penting di dalam pengolahan produk. “Sebab, untuk membuat konsumen tertarik dengan produk yang kita jual adalah yang pertama dilihat adalah tampilan atau pengemasan produk tersebut. Baru yang kedua adalah rasa dari makanan ini,” imbuhnya.

Hal tersebut diakui oleh Abdul Kadir Karding, saat memberi sambutan pembukaan kegiatan pelatihan ini. Anggota Komisi VII DPR RI ini menyampaikannya dengan istilah ‘kesan pertama’. “Kalau kesan tersebut sudah bagus, kecenderungan konsumen untuk membeli sangat kuat, tahap berikutnya baru kualitas makanannya. Mulai dari tekstur, rasa, lalu bagaimana inovasi muncul dari bahan makanan yang digunakan,” ujar Karding.

Baginya, jenis pelatihan semacam sangat efektif bagi masyarakat untuk mengetahui penelitian yang dilakukan BRIN, dalam hal ini untuk pemanfaatan hasil riset bagi pengembangan UMKM di Indonesia. “Masyarakat akan diberikan pendampingan, bagaimana mengemas suatu produk agar menarik, punya kualitas bagus, punya daya tahan terhadap cuaca, dan sebagainya, karena agar orang tertarik membeli,” ungkapnya beralasan.

BRIN menjadi harapan bangsa dalam memanfaatkan hasil penelitian. “Ibaratnya, penelitian ini tidak hanya di atas kertas saja, tapi juga bisa diterapkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat,” tutur Karding.

Pengemasan makanan yang dilakukan dengan baik akan sangat membantu proses penjualan. Apalagi, pada era serba digital saat ini. Hampir rata–rata bisnis perdagangan dipasarkan melalui media online. Maka, kunci dari sebuah produk kemasan menjadi penting di era perdagangan. “Soal rasa, kan, setelah kita buka kemasan tersebut lalu kita makan, baru orang akan mengungkapkan kualitas dari produk makanan tersebut,” ujarnya.

Hal tersebut dipaparkan juga oleh Asep. Ketika seseorang berbelanja suatu produk dengan harga yang sama, maka yang pertama ia pilih dari kemasannya yang lebih menarik. Untuk itu, salah satu bagian tugas BRIN yaitu mendorong, membesarkan, serta memberdayakan UMKM Indonesia agar mampu bersaing di kancah persaingan global.

Karding sendiri mengungkapkan, menurut data yang ia baca dari sebuah sumber, Indonesia menempati kedudukan tinggi jumlah pegiat UMKM, yaitu sejumlah 64,2 juta UMKM yang menghasilkan sekira 8.578 triliun produk. “Mereka ini penyangga ekonomi nasional kita. Jumlahnya tentu banyak sehingga secara ekonomi pasti menghasilkan produk usaha yang banyak. Maka UMKM harus kita bantu dan dampingi agar di dalam menjalankan produk  bisa bekerja lebih baik,” tegasnya.

Maka dari itu perlu adanya upaya pemerintah untuk memberdayakan produk UMKM tersebut konsisten di tengah tingginya arus pemasaran, punya kemasan yang layak dijual, bahkan para unit usaha bisa mengembangkan usaha lebih besar lagi untuk meningkatkan omset penghasilan mereka.

“Mudah–mudahan BRIN dapat menjawab keresahan masyarakat UMKM di tengah persaingan yang kuat di pasaran. Dengan kegiatan kumpul–kumpul semacam ini, antar UMKM bisa berkomunikasi, sehingga bisa membangun jejaring untuk saling memberikan masukan dan berbagi tips dan trik guna meningkatkan produk usahanya,” harap Karding.

Kegiatan pelatihan diisi dengan pemaparan sebuah proses pengemasan makanan. Dimulai dengan pengenalan berbagai inovasi produk makanan di Indonesia. Peserta dibuka wawasannya dengan membandingkan beberapa produk yang sejenis untuk membuat strategi pengemasan suatu makanan. Penampilan menjadi kunci utama sebuah produk, baik bentuk, tekstur, ukuran, maupun warna. 

Namun hal tersebut tetap tidak mengesampingkan kualitas produk makanan, mulai dari jaminan kualitas keamanan, kandungan gizi, serta jaminan rasa. Maka peserta yang rata–rata membawa produk usaha yang dihasilkan, produknya diulas oleh instruktur agar memperoleh masukan guna meningkatkan kualitas. Peserta juga dilibatkan dalam memberi ulasan tersebut. Suasana dialog interaktif selalu mewarnai dari setiap pembahasan produk makanan peserta.BRIN.